
Korsel usulkan DMZ diubah menjadi 'zona perdamaian' internasional

Washington (ANTARA) - Korea Selatan mengusulkan agar zona yang saat ini memisahkan negara tersebut dengan Korea Utara dan selalu berada dalam penjagaan militer secara ketat diubah menjadi “zona perdamaian internasional” untuk menjamin perdamaian di semenanjung tersebut.
Presiden Moon Jae-in menyampaikan visinya untuk DMZ dalam pernyataan sebelum pertemuan para pemimpin dunia buat Sidang Majelis Umum PBB di New York.
"Perbatasannya menetapkan strategi yang ditetapkan oleh 70-tahun konfrontasi militer, tapi secara bertolak-belakang zona itu telah menjadi harta karun ekologi murni," kata Moon di dalam pernyataan yang diterjemahkan, sebagaimana dikutip Kantor Berita Turki, Anadolu --yang dipantau Antara di Jakarta, Rabu malam.
"Itu telah menjadi ruang simbolis yang terpusat pada sejarah yang merangkul tragedi perpecahan sebagaimana diwujudkan oleh daerah keamanan gabungan, pos penjaga dan pagar kawat berduri, serta kerinduan bagi perdamaian," katanya. "DMZ adalah warisan umum umat manusia dan nilainya harus dibagi dengan seluruh dunia."
DMZ telah memecah kedua Korea selama 66 tahun setelah penandatanganan gencatan senjata yang menghentikan permusuhan di Semenanjung Korea pada 1953.
Moon mengatakan segera setelah perdamaian Seoul dan Pyongyang dicapai, ia akan bekerja untuk membuat DMZ --yang memiliki panjang 155 mil (250 kilometer) dari timur ke barat dan lebar 2,5 mil (empat kilometer), dijadikan lokasi warisan dunia UNESCO.
Jika "zona perdamaian internasional" dibentuk, "semenanjung tersebut akan berkembang jadi jembatan bangsa yang menghubungkan benua itu dan samudra, dan memfasilitasi perdamaian dan keamanan," kata Moon.
"Pembentukan zona perdamaian internasional akan menyediakan jaminan institusional dan nyata bagi keamanan Korea Utara. Pada saat yang sama, Korea Selatan juga akan bisa meraih perdamaian yang langgeng," ia menambahkan.
Ada ratusan ribu ranjau anti-personel yang diperkirakan ada di daerah tersebut, dan Moon mengatakan Korea Selatan akan memerlukan waktu 15 tahun untuk menghilangkannya jika bertindak sendirian. Tapi waktunya akan sangat dipercepat oleh bantuan internasional, katanya.
Sumber: Anadolu Agency
Pewarta : Chaidar Abdullah
Editor:
Eka Arifa Rusqiyati
COPYRIGHT © ANTARA 2026
