Akademisi: Ilmu Kalam tidak sepopuler ilmu lain dalam keilmuan Islam

id akademisi, ilmu kalam,uin sunan kalijaga

Akademisi: Ilmu Kalam tidak sepopuler ilmu lain dalam keilmuan Islam

Prof Sangkot Sirait menyampaikan pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta bidang Ilmu Kalam (ANTARA/HO-UIN Suka)

Yogyakarta (ANTARA) - Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta Prof Sangkot Sirait mengatakan dalam perkembangan akademik studi keislaman, Ilmu Kalam tidak sepopuler disiplin ilmu lain dalam keilmuan Islam seperti Ilmu Hadis, Ilmu Tafsir, Sejarah Kebudayaan Islam, Fikih, Ilmu Tauhid, Akhlak, dan Tasawuf.

"Di awal penyusunan struktur kurikulum pendidikan agama Islam dulu Ilmu Kalam dinamakan Dirasah Islamiah. Dalam kurikulum Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia yang saat ini sedang dikembangkan di lingkup Kementerian Agama, Ilmu Kalam menjadi bagian dari Ilmu Tauhid," kata Sangkot dalam pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar UIN Sunan Kalijaga bidang Ilmu Kalam, di Yogyakarta, Jumat.

Dalam orasinya berjudul "Ilmu Kalam dan Keberagamaan Fungsional", Sangkot mengatakan Ilmu Kalam merupakan ilmu yang berisi tentang pengakuan terhadap eksistensi ketuhanan dan logika keyakinan dalam konteks Islam. Jadi, aspek rasionalisme mendominasi makna pengakuan terhadap eksistensi Allah SWT, Tuhan yang Maha Esa.

Menurut dia, kajian Ilmu Kalam didominasi oleh dua hal pokok, yakni mempertahankan keabsahan sebuah keyakinan dan membuktikannya dengan kerangka logika. Misalnya Rukun Iman, cukuplah diyakini kemudian diteguhkan dengan logika (akal).  Kajiannya tentang realitas keyakinan yang hidup dan keberagamaan fungsional.

Pokok kajian dalam Ilmu Kalam ini salah satunya didasarkan pada Q.S Al-Ashr yang dilukiskan betapa manusia banyak merugi kecuali mereka yang beriman dan beramal saleh, saling menasihati tentang kebenaran dan kesabaran.

Sementara amal saleh dalam keberagamaan fungsional dimaknai dalam konteks ekspresi keberimanan (akidah) seorang Muslim hingga dapat memberikan manfaat bagi dirinya dan bagi banyak orang (iman) berada pada wilayah privasi, dan amilusshalihat berada pada wilayah publik. Umat manusia bisa dikatakan beruntung jika bisa memadukan keduanya.

Ia mengatakan, agar Ilmu Kalam selalu relevan dengan perkembangan zaman dan dapat berkontribusi langsung terhadap persoalan kemanusiaan, diperlukan pendekatan interdisiplin keilmuan seperti Sosiologi, Antropologi, Etika, dan Ilmu Humaniora.

Pendekatan sosiologi atau historis misalnya, akan membantu seseorang untuk melihat di mana titik temu agama-agama Samawi, serta di mana dan kapan mulai justru terjadi konflik antara penganut agama.

Demikian juga halnya dengan bagaimana memaknai iman kepada Kitab Suci.  Banyak umat Muslim terjebak pada pandangan hanya iman kepada Al Quran saja. Artinya sudah terjadi reduksi dari iman kepada Kitab Suci menjadi iman kepada Al Quran saja. 

"Jika cara memahami rukun iman yang tereduksi berlangsung tanpa perbaikan, maka kecil kemungkinan akan terwujud pemahaman keagamaan fungsional,  baik itu yang disebut inklusi, pluralisme maupun multikultural," kata Sangkot.

Oleh karena itu, menurut dia, seorang guru atau pendakwah agama Islam yang menyampaikan ajaran ilmu tauhid seharusnya hati-hati dalam mengajarkannya. Dalam hal ini harus ada keseimbangan antara emosi (hati), rasio (nalar), metodologi dan implementasi. Tidak boleh salah satu mendominasi yang lain.

"Jika dominasi itu terjadi, masih akan ada yel-yel di lembaga pendidikan Islam: 'Islam, Islam yes, kafir, kafir no', atau masih akan ada orang Islam yang mengucapkan kalimat mulia 'Allahu Akbar', yang semestinya menunduk kepala menghadap bumi, sekarang berubah dengan wajah yang penuh emosi, mengepalkan tangan, sambil menatap tajam ke depan. Wallahu a'lam," kata Sangkot.
 
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar