Dokter: ginjal kronis bukan penyakit keturunan

id dokter,ginjal,penyakit

Dokter: ginjal kronis bukan penyakit keturunan

Dokter spesialis penyakit dalam dr Triharnoto (kanan) dalam diskusi "Kesehatan Nutrisi Tepat untuk Pasien Gagal Ginjal" (HO-Kalbe Farma)

Yogyakarta (ANTARA) - Ginjal kronis bukan penyakit keturunan atau penyakit yang menurun, tetapi akibat perilaku dan kebiasaan orang tua yang biasanya ditiru oleh anak-anaknya, kata dokter spesialis penyakit dalam dr Triharnoto.

"Kalau kebiasaan dan perilaku serta pola hidup orang tua tidak baik atau tidak sehat, boleh jadi hal yang sama juga akan dialami oleh anak-anaknya," katanya pada diskusi "Kesehatan Nutrisi Tepat untuk Pasien Gagal Ginjal", di Yogyakarta, Minggu.

Dalam diskusi yang diselenggarakan PT Kalbe Farma Tbk itu, Triharnoto mengatakan secara medis, penyakit ginjal kronis atau lebih dikenal dengan penyakit gagal ginjal merupakan penurunan fungsi ginjal secara perlahan dan menahun. Penyebabnya berbagai macam faktor, bersifat progresif dan iirefersible.

"Gejala yang muncul biasanya tidak nafsu makan, mual, muntah, pusing, sesak napas, dan cepat lelah. Secara umum, penyakit ginjal kronis disebabkan oleh banyak hal," katanya.

Menurut dia, penyebabnya selain banyak dialami oleh penderita diabetes mellitus (DM), juga banyak diderita oleh pasien dengan gangguan hipertensi. Penyebab lainnya, bisa bermula dari gangguan batu ginjal dan kista.

"Gangguan-gangguan kesehatan itu dalam jangka panjang akan merusak pembuluh darah dan mengancam kesehatan ginjal. Jadi harus waspada," kata Triharnoto.

Ia mengemukakan penyakit ginjal kronis kini menjadi permasalahan serius bagi Indonesia. Data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menunjukkan jumlah penderita penyakit ginjal di Indonesia menempati urutan kedua setelah penyakit jantung, dengan pertumbuhan hampir 100 persen dalam kurun waktu 2014-2015.

"Penduduk yang terkena penyakit ginjal pun kebanyakan berusia produktif. Data 7th Report of Indonesian Renal Registry pada 2014 menunjukkan 56 persen penderita penyakit ginjal adalah penduduk usia produktif, yakni di bawah 55 tahun," katanya.

Untuk menghindari penyakit ginjal kronis, menurut dia,  yang terpenting adalah menjaga pola makan, perilaku dan pola hidup dengan baik serta cukup istirahat.

"Harus dipahami, tidak ada penyakit yang 'single' atau berdiri sendiri. Penyakit selalu muncul karena gangguan yang saling terkait dari sistem tubuh," kata Triharnoto.

Health Care Consultant Kalbe Ethical Customer Care Adis Pranaya Yakin mengatakan pasien dengan gagal ginjal, diklasifikasikan menjadi pasien predialisis dan pasien hemodialysis.

Menurut dia, dampak dari penyakit ginjal ini amat serius dan berpengaruh besar terhadap sosial ekonomi penderita dan negara, karena biaya penanganannya yang mahal.

"Untuk tahun 2015, (data BPJS hingga triwulan III-red), terdapat 1,2 juta kasus gagal ginjal, dengan pembiayaan Rp16 triliun," kata Adis.

Diet nutrisi, menurut dia, sangat perlu untuk pasien-pasien dengan gagal ginjal, tentunya hal-hal yang digunakan dalam dietnya berbeda antara pasien predialisis dengan hemodialysis.

"Itulah mengapa, kami rutin mengadakan kegiatan diskusi semacam ini, sebagai ajang untuk mengedukasi masyarakat sebagai wujud kepedulian terhadap pencegahan penyakit ginjal," kata Adis.

Ia mengatakan melalui diskusi itu pasien yang sudah gagal ginjal bisa "sharing" dan tukar pengetahuan agar tetap mampu mempertahankan kualitas hidupnya.

"Asalkan bisa menjaga pola hidup dan pola makan, pasien gagal ginjal pasti tetap sehat dan produktif," kata Adis.

Eko Trisnawan, penderita gagal ginjal sejak 201,  mengatakan menjaga keseimbangan dalam hidup adalah hal paling utama agar tubuh tetap sehat. Aktivitas fisik, pola makan atau asupan, dan istirahat yang cukup merupakan sebuah keharusan.

Eko mengaku terlambat menyadari pola hidupnya saat divonis gagal ginjal dan langsung HD seminggu dua kali. Sebelumnya, dia mengaku pekerja keras di sebuah pabrik dengan jam kerja mulai pukul 06.00 hingga 22.00 WIB setiap hari, kecuali Sabtu dan Minggu.

Kondisi itu, menurut dia, diperparah dengan pemakaian bahan-bahan suplemen untuk menambah stamina.

"Jangan sampai kawan-kawan yang masih sehat mengalami seperti saya. Jagalah pola hidup yang seimbang, karena hal itu sangat penting,” kata Eko yang kini memilih berjualan gorengan untuk menghidupi keluarga.

 
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar