PMI Bantul: kekeringan dampak kemarau 2019 lebih panjang

id Droping air,kekeringan bantul,PMI

PMI Bantul: kekeringan dampak kemarau 2019 lebih panjang

PMI Bantul menyalurkan bantuan air bersih ke lokasi kekeringan di Dusun Karang Talun Wukirsari, Imogiri, Bantul, DIY (Foto ANTARA/Hery Sidik)

Bantul (ANTARA) - Palang Merah Indonesia Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta menyatakan kekeringan atau kesulitan air bersih yang dialami sebagian masyarakat daerah ini karena dampak kemarau 2019 lebih panjang dibanding tahun sebelumnya.

"Dampak kemarau tahun ini lebih panjang, tahun ini seperti pada tahun 2015, sehingga untuk penyaluran air kita itu acuannya seperti pada tahun 2015 mencapai sekitar 500 tangki," kata Pelaksana Lapangan Operasi Kekeringan Korps Sukarela PMI Bantul Mencho Yulianto di Bantul, Selasa.

Ia mengatakan, sementara sampai dengan minggu pertama bulan Oktober ini bantuan air bersih sudah tersalurkan sebanyak 329 tangki, bantuan itu berasal dari donasi atau bakti sosial komunitas masyarakat, organisasi kemasyarakatan, badan usaha maupun instansi terkait.



Dengan demikian, kata dia, distribusi air bersih ke lokasi-lokasi kekeringan di wilayah Bantul masih akan terus dilakukan sampai dengan musim hujan nanti, sampai kebutuhan air bersih masyarakat terpenuhi, mengingat masih ada permintaan droping air dan penyaluran bantuan air.

"Untuk kemarau panjang ini baru dapat 329 tangki air. Musim hujan perkiraan BMKG itu awal-awal Desember, tapi biasanya kita stop pengiriman air itu pertengahan bulan pada waktu musim hujan, karena awal musim hujan masyarakat tetap kekurangan airnya," katanya.

Menurut dia, air bersih ratusan tangki air itu sudah disalurkan ke beberapa wilayah seperti di Wukirsari (Imogiri), kelurahan Terong, Mangunan dan Jatimulyo (Dlingo), Srimulyo, Gilangharjo Pandak dan Guwosari Pajangan, namun sebagian besar di Wukirsari, Jatimulyo, Terong, Mangunan dan Srimulyo.

Ia mengatakan, dalam pengiriman bantuan air bersih ke lokasi kekeringan terkadang menemui kendala, seperti akses menuju bak penampungan yang tidak mudah dijangkau armada, sebab harus melalui jalan yang belum beraspal, juga belum ada bak penampungan.

"Kendala kita itu misalnya di Mangunan sampai Munthuk (Dlingo) jarak tangki sampai penampungan air sangat panjang dan (jalan) menanjak, tetapi kita juga mempersiapkan selang yang lebih panjang," katanya.
 
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar