Pemkot Yogyakarta perluas pengawasan elpiji bersubsidi ke hotel

id elpiji subsidi,hotel,pengawasan

Pemkot Yogyakarta perluas pengawasan elpiji bersubsidi ke hotel

Ilustrasi (Antara Sumut/Istimewa)

Yogyakarta (ANTARA) - Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Yogyakarta akan memperluas pengawasan penggunaan elpiji tiga kilogram atau elpiji bersubsidi ke berbagai tempat usaha berskala besar, salah satunya usaha hotel.

“Sebelumnya, kami sudah melakukan pengawasan penggunaan elpiji ke restoran. Dari temuan di lapangan, masih ada saja pengusaha restoran yang menggunakan elpiji bersubsidi tersebut,” kata Kepala Bidang Bimbingan Usaha Pengawasan dan Pengendalian Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Yogyakarta Benedict Cahyo Santosa di Yogyakarta, Rabu.

Menurut dia, pengawasan penggunaan elpiji tiga kilogram ke perhotelan dilakukan karena dimungkinkan masih ada pelaku usaha hotel yang memanfaatkan elpiji bersubsidi tersebut dalam menjalankan usaha mereka.

Jika ditemukan hotel yang masih menggunakan elpiji tiga kilogram maka petugas akan melakukan pembinaan dan imbauan agar pelaku usaha tidak menggunakan elpiji bersubsidi karena menyalahi aturan dan dimungkinkan dilakukan penggantian tabung secara langsung dengan tabung elpiji nonsubdisi.

“Saat melakukan pengawasan di restoran beberapa waktu lalu, kami juga langsung melakukan penggantian tabung elpiji bersubsidi dengan tabung bright gas 5,5kg,” katanya.

Ia menyebutkan pelaku usaha biasanya beralasan kesulitan memperoleh bright gas 5,5kg sehingga memilih menggunakan elpiji bersubsidi yang mudah diperoleh.

“Kami sudah berkoordinasi dengan Pertamina dan menjamin bahwa ketersediaan elpiji nonsubsidi termasuk bright gas sangat mencukupi. Stok selalu ada sehingga seharusnya tidak boleh lagi ada alasan kesulitan mencari elpiji nonsubsidi,” katanya.

Berdasarkan Surat Edaran Gubernur DIY Nomor 510/2018 dinyatakan bahwa elpiji bersubdisi tiga kilogram hanya dimanfaatkan untuk rumah tangga miskin dan usaha mikro, sedangkan restoran, usaha peternakan, pertanian, batik, binatu, usaha jasa las, usaha tembakau dan ASN dilarang menggunakan elpiji bersubsidi.

Selain pengawasan penggunaan elpiji bersubdisi, Benedict mengatakan, juga rutin melakukan pengawasan terhadap harga elpiji bersubsidi di tingkat agen. Di Kota Yogyakarta tercatat ada sekitar 60 hingga 70 pangkalan dan 14 agen.

“Kuota elpiji bersubsidi di Kota Yogyakarta juga mencukupi,” kata Benedict. Kuota elpiji di Yogyakarta mengalami kenaikan sekitar 150.000 tabung atau 452 metric ton dibanding alokasi elpiji tahun lalu sebanyak 21.088 metric ton atau tujuh juta tabung.

Pewarta :
Editor: Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar