Dinkes Kulon Progo edukasi masyarakat agar waspada kehamilan

id Kewaspadaan kehamilan,Dinkes Kulon Progo,Kulon Progo

Dinkes Kulon Progo edukasi masyarakat agar waspada kehamilan

Dinas Kesehatan Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, melakukan edukasi kepada masyarakat agar selalu waspada dengan kehamilan agar terhindar dari risiko kehamilan ibu dan bayi, serta mengurangi angka stunting. (Foto ANTARA/Sutarmi)

Kulon Progo (ANTARA) - Dinas Kesehatan Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, melakukan edukasi kepada masyarakat agar selalu waspada dengan kehamilan agar terhindar dari risiko kehamilan ibu dan bayi, serta mengurangi angka stunting.

Wakil Bupati Kulon Progo Sutedjo di Kulon Progo, Kamis, mengatakan di Kulon Progo, angka kematian ibu dan bayi jumlahnya berbeda-beda setiap tahun.

Angka kelahiran ibu dari 2014 ke 2015 menurun kemudian mengalami kenaikan di 2016, dan terus menurun hingga di 2018. Sedangkan angka kelahiran bayi terus mengalami penurunan walaupun tidak drastis.

"Permasalahan ini perlu ditindak lanjuti khususnya dalam penurunan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) yang sangat kompleks penanganannya dan tidak akan selesai hanya oleh tenaga kesehatan sendiri, tetapi harus diupayakan untuk melibatkan banyak pihak diantaranya pemerintah, para profesional serta sektor terkait seperti masyarakat dan swasta,” kata Sutedjo.

Ia mengatakan upaya yang dibentuk oleh Dinas Kesehatan antara lain adalah RINDU KIA atau grup WhatsApp yang mempermudah penyaluran informasi mengenai kondisi ibu hamil di seluruh daerah Kulon Progo, baik ibu hamil yang berisiko maupun kehamilan normal.

"Anggota dari grup ini antara lain dinas kesehatan, puskesmas daerah, Polri, TNI dan PMI yang memiliki tugas masing-masing serta tanggap terhadap keselamatan ibu hamil," katanya.

Ia mengatakan ibu dan bayi bisa dicegah melalui berbagai hal diantaranya adalah melakukan KB atau keluarga berencana, dengan KB maka kehamilan diusia lebih dari 35 tahun menjadi berkurang hal ini karena kehamilan diusia tua memiliki risiko kematian lebih tinggi. Selain itu kesehatan ibu hamil juga perlu diperhatikan dan juga komitmen dari stakeholder untuk mendukung kehamilan ibu.

Strategi untuk mengurangi AKI ada tiga pilar yang pertama Keluarga Berencana atau KB, kemudian kesehatan ibu hamil serta komitmen dari semua pemangku amanah.

"Selain itu beberapa hal yang harus dihindari adalah minum minuman keras, merokok, minum jamu, makan makanan yg dimasak setengah matang minum kopi dan teh minimal dua cangkir dalam sehari dan disarankan untuk melakukan aktivitas saat hamil seperti senam hamil," katanya.

Sementara itu, Kepala Departemen Gizi dan Kesehatan Kementerian Kesehatan Toto Sudargo mengatakan ibu hamil juga perlu melakukan pengecekan apakah anemia atau tidak, kekurangan gizi atau tidak, mempunyai kanker atau tumor tidak, memiliki kelenjar tiroid atau tidak, hipertensi atau tidak serta beragam penyakit lainnya.

Kepala bidang kesehatan dan masyarakat Dinas Kesehatan Kulon Progo, Hunik Rimawati mengatakan Kulon Progo saat ini memang menangani dengan serius kasus AKI dan AKB dengan berbagai cara diantaranya mengembangkan aplikasi BUMILKU. Aplikasi yang sudah dirintis sejak 2018 ini membantu Dinas Kesehatan dan puskesmas untuk memantau kesehatan ibu hamil agar terhindar dari risiko kematian.

“Aplikasi bumilku ini memang secara dampak belum mengalami penurunan, tapi secara pemantauan kita sudah semakin ketat. Harapannya jika terdeteksi dini maka kita bisa menurunkan risiko," kata Hunik.
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar