Kompetitor rencanakan layanan gratis untuk saingi Netflix

id netflix

Kompetitor rencanakan layanan gratis untuk saingi Netflix

Rakuten milik Jepang telah mengungkapkan rencananya memasuki pasar Eropa (afp.com)

Jaringan televisi publik dan privat di seluruh dunia berusaha untuk mempertahankan penonton dengan menyediakan program yang inovatif serta eksklusif.
Yogyakarta (ANTARA) - Para penyedia layanan video streaming melirik cara baru untuk bersaing dengan jawara industri tersebut Netflix, dengan layanan gratis yang disertai iklan.

Saat Disney, HBO, dan Apple meluncurkan layanan dengan sistem berlangganan layaknya Netflix, perusahaan lain seperti Tubi, Roku, Pluto, dan Rakuten menguji penerimaan penonton terhadap iklan di layanan video on demand (VOD).

Perusahaan Tubi yang berpusat di California dan Rakuten milik Jepang pada minggu ini akan mengumumkan rencana untuk menembus pasar Eropa pada acara MIPCOM di Cannes, Prancis, pasar konten televisi terbesar di dunia.

Tubi berencana meluncurkan layanan Tubi Kids minggu depan yang akan tersedia di Britania pada 2020. Layanan tersebut menyediakan serial seperti “Strawberry Shortcake”, “Paddington Bear”, dan “The Wiggles”.

Tubi mengklaim bahwa layanan utamanya di AS yang berisi 15.000 film dan pertunjukan televisi telah melebihi Netflix, serta mengaku sebagai layanan yang cenderung menyediakan konten beragam daripada konten eksklusif.

“Hanya sekitar satu persen konten yang mengharuskan penonton untuk berlangganan, dan kami akan meluncurkan ‘Game of Thrones’ selanjutnya,” kata kepala eksekutif Farhad Massoudi kepada AFP.

“Akan tetapi, kami memiliki rangkaian serial yang mengagumkan, serta film dan dokumenter yang menang di Cannes atau Oscar, yang pasti ingin kalian tonton pada akhir pekan,” imbuhnya.

Rakuten TV mengumumkan rencananya untuk menambah konten eksklusif seperti dokumenter klub Barcelona dengan John Malkovich sebagai pengisi suara.

“Belum ada platform gratis yang kuat di Eropa,” ucap kepala Rakuten TV Jacinto Roca.

Dengan penonton berlangganan pada dua atau tiga layanan, “kami mempertimbangkan AVOD (layanan video berbasis iklan) dapat menjadi komplementer untuk SVOD (layanan video berbasis langganan) dan layanan bayar per tayangan” ujar Roca.

Pasar untuk layanan video berbasis langganan mulai ramai.

Bulan depan, Disney dan Apple berencana meluncurkan layanan SVOD dengan nama Disney+ dan AppleTV+.

Platrorm Britania Britbox yang dikeluarkan oleh BBC dan ITV rencananya keluar pada akhir tahun, sementara WarnerMedia berencana meluncurkan layanan HBO Max pada bulan-bulan awal 2020.

Mereka semua adalah perusahaan-perusahaan besar yang sudah dipercaya oleh pengguna.

Akan tetapi, perusahaan besar AS, Viacom (Paramount, MTV, Nickelodeon) menunjukkan ketertarikan pada jasa AVOD dengan membeli Pluto TV seharga 340 juta dolar AS pada  Januari.

Platform tersebut menawarkan kanal tematik lewat tayangan langsung dan tayangan ulang, layanannya juga tersedia di Britania, Kanada, Jerman, dan Swiss.

Jaringan televisi publik dan privat di seluruh dunia berusaha untuk mempertahankan penonton dengan menyediakan program yang inovatif serta eksklusif.

Walau begitu, mereka masih menghadapi masalah yang membuat Netflix seperti udara segar bagi penonton, yaitu menampilkan iklan untuk mendapat untung tanpa mengurangi penonton.

Platform AVOD juga tentu mengalami masalah yang sama. Perusahaan dari AS itu mengalami masalah tambahan sebab orang Eropa terbiasa menonton tanpa iklan, umumnya karena regulasi.

“Untuk memperkenalkan Pluto TV ke Eropa, kami harus mengurangi iklan,” ucap Olivier Jollet, direktur konten platform tersebut, pada diskusi di MIPCOM.

Sementara itu Tubi berencana menggunakan iklan seperempat dari standar tayangan di AS dengan empat hingga lima menit per jam.

“Jika anda diganggu oleh iklan setiap dua menit, anda tidak akan senang,” ujar Massoudi .

“Kami tidak ada niat untuk membuat pengalaman bersenang-senang anda menjadi suram.”

Rakuten berencana untuk menggunakan setengah dari standar siaran televisi.

Video gratis yang tersedia harus meyakinkan pengiklan bahwa ada pengguna yang menonton iklan tersebut. Roca mengatakan pengiklan dari televisi tradisional menunjukkan ketertarikan pada layanan ini yang memiliki penonton serta kemungkinan inovasi lebih tinggi.

Media sosial tidak pernah mati sekarang ini.

Platform Watch milik Facebook minggu ini mengumumkan kerja sama dengan jaringan makanan dan perjalanan Tastemade serta jaringan Prancis, M6.

Platform berbasis iklan terbesar masih dipegang oleh YouTube milik Google yang sudah beroperasi sejak 2005, walaupun perusahaan tersebut lebih fokus pada video durasi pendek.

Meskipun sebagian besar pemilik konten masih waswas menempatkan konten mereka di YouTube, sebagian mulai yakin. Lagardere studio dari Prancis menayangkan dua serial populer miliknya di platform tersebut.

 
Pewarta :
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar