Masyarakat diimbau hindari aktivitas memicu kebakaran lahan

id kebakaran, pemicu kebakaran,kebakaran lahan,kebakaran pada musim kemarau,BPBD DIY imbau cegah kebakaran

Masyarakat diimbau hindari aktivitas memicu kebakaran lahan

Kepala Pelaksana BPBD DIY Biwara Yuswantana. (FOTO ANTARA/Luqman Hakim)

Masyarakat diimbau tidak melakukan kegiatan-kegiatan yang bisa memicu kebakaran lahan, seperti bakar sampah, buang puntung rokok sembarangan, ....
Yogyakarta (ANTARA) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengimbau masyarakat untuk menghindari berbagai aktivitas yang dapat memicu kebakaran lahan di penghujung musim kemarau saat ini.

"Masyarakat diimbau tidak melakukan kegiatan-kegiatan yang bisa memicu kebakaran lahan, seperti bakar sampah, buang puntung rokok sembarangan, serta main kembang api," kata Kepala Pelaksana BPBD DIY Biwara Yuswantana di Yogyakarta, Selasa.

Ia juga mengingatkan masyarakat banyak mengonsumsi air putih untuk mencegah dehidrasi seiring suhu udara panas yang melanda Yogyakarta beberapa hari terakhir.

"Dampaknya tentu rasa panas dan tidak nyaman dirasakan masyarakat terlebih yang beraktivitas di luar ruang," kata dia.

Selain hemat penggunaan air, menurut dia, masyarakat juga perlu melakukan langkah antisipasi menjelang musim hujan.

Upaya antisipasi itu, kata dia, antara lain dilakukan dengan memulai membersihkan saluran air hujan serta membuat sumur resapan atau kolam tampung air hujan.

Selain dapat mengurangi potensi banjir, sumur resapan juga bermanfaat untuk menampung air hujan yang dapat dimanfaatkan di musim kemarau mendatang.

Baca juga: Masyarakat dimintai waspadai pohon tumbang saat musim pancaroba

"Agar air hujan masuk ke sumur-sumur resapan untuk memanen air hujan sehingga tidak semua air mengalir ke sungai yang bisa menyebabkan banjir," kata dia.

Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatlogi, dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta memprakirakan suhu panas masih berpotensi menyelimuti Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) hingga akhir Oktober 2019 karena posisi matahari masih dekat dengan daerah ini.

Kepala Kelompok Data dan Informasi Stasiun Klimatologi BMKG Yogyakarta, Etik Setyaningrum mengatakan selain posisi matahari, udara yang terasa gerah di malam hari juga dipicu adanya kandungan uap air (RH) yang cukup besar di udara. Kondisi ini menyebabkan adanya proses penguapan hingga pembentukan awan.

Dengan adanya tutupan awan ini maka radiasi balik bumi ke atmosfer tertahan oleh awan. "Sehingga tidak bisa keluar bebas ke angkasa tetapi dipantulkan kembali ke bumi dan suhu udara di bumi terasa lebih gerah," kata dia.
Baca juga: Kecamatan di Gunung Kidul kekurangan anggaran dropping air
Pewarta :
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar