Dinas Pertanian Kulon Progo merekomendasikan gunakan biji bawang merah

id Bawang merah,Kulon Progo

Dinas Pertanian Kulon Progo merekomendasikan gunakan biji bawang merah

Hamparan lahan bawang merah di Bulak Srikayangan, Kecamatan Sentolo, Kabupaten Kulon Progo. (Foto ANTARA/Sutarmi)

Kulon Progo (ANTARA) - Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, merekomendasikan petani bawang merah menggunakan benih biji guna menekan biaya produksi.

"Kami mengajak petani menanam bawang merah menggunakan biji untuk menekan biaya produksi," kata Kepala Bidang Hortikultura Dinas Pertanian dan Pangan Kulon Progo Eko Purwanto di Kulon Progo, Kamis.

Ia mengatakan harga benih bawang merah yang murah akan menekan biaya pruduksi, karena biaya benih bawang merah dari umbi sangat mahal, sehingga biaya produksi juga tinggi. Hitungan ekonomisnya setiap hektare membutuhkan benih biji tiga kilogram. Harga benih biji bawang merah berkisar Rp3 juta kilogram, sehingga setiap hektare hanya membutuhkan biaya Rp9 juta.

Kalau menggunakan benih umbi bawang merah membutuhkan biaya tinggi, kebutuhan benih sekitar 700 kg per hektare, dengan harga Rp40 ribu per kg. Anggaran yang dibutuhkan dengan benih umbi sebanyak Rp27 juta per hektare.

"Kami intensif melakukan sosialisasi kepada petani beralih dari benih umbi ke biji bawang merah," katanya.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kulon Progo Aris Nugraha mengatakan penggunaan benih ini lebih menguntungkan dibandingkan benih umbi, namun belum banyak diterapkan petani.

Saat ini pertanian bawang merah dengan cara tersebut masih jarang dilakukan petani Kulonprogo. Di Kulon Progo, cara itu dapat dijumpai di di Desa Kedungsari, Kecamatan Pengasih. Di sana terdapat lahan pertanian seluas 10 ha yang seluruhnya sudah ditanam menggunakan benih biji.

Melalui bantuan dari pemerintah pusat, jawatan ini berencana mengembangkan 50 hektare lagi untuk tanam sistem benih biji. Akan tetapi Distanpangan belum menentukan lokasi mana yang akan dipilih.

"Sedang kita identifikasi lokasi-lokasinya. Tetapi masih di lokasi sentra produksi bawang merah, antara Kecamatan Sentolo, Lendah dan Pengasih," katanya.

Salah satu petani bawang merah di Desa Srikayangan, Sabar mengatakan petani bawang merah masih tetap bertahan menggunakan sistem umbi. Alasannya masa panen umbi lebih cepat dibandingkan biji.

"Kalau beralih ke biji saya kita sulit ya, petani di sini sudah terbiasa pake umbi, soalnya masa panen jauh lebih cepat, kalau biji itu paling tidak 3 bulan, sedangkan umbi hanya butuh 2 bulan," kata Sabar.
Pewarta :
Editor: Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar