Sejumlah jalan Yogyakarta masih berpotensi tergenang saat hujan

id Genangan,hujan,drainase

Sejumlah jalan Yogyakarta masih berpotensi tergenang saat hujan

Pekerjaan perbaikan drainase di salah satu ruas jalan di Kota Yogyakarta untuk mengatasi genangan (Antara/Eka Arifa Rusqiyati)

di Jalan Menteri Supeno, genangan lebih banyak disebabkan luapan air dari Sungai Manunggal. “Biasanya, genangan hanya terjadi saat hujan yang turun benar-benar lebat.

Yogyakarta (ANTARA) - Sejumlah ruas jalan di Kota Yogyakarta masih berpotensi mengalami genangan pada musim hujan dengan ketinggian bervariasi antara 20-30 centimeter sehingga pengguna jalan yang melintasi jalan tersebut perlu meningkatkan kewaspadaan.

“Genangan tersebut tidak terjadi dalam waktu yang lama. Paling tidak, 30 menit sudah surut dengan sendirinya,” kata Kepala Seksi Peningkatan Perairan dan Drainase Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Kota Yogyakarta Herka Hanung Wijaya di Yogyakarta, Jumat.

Sejumlah ruas yang berpotensi mengalam genangan, sebut Herka, di antaranya ruas Jalan Trimo dan di Jalan Menteri Supeno sisi selatan.

Genangan di Jalan Trimo, lanjut Herka, bukan disebabkan tidak ada saluran drainase di lokasi tersebut tetapi kapasitas saluran air hujan di ruas jalan tersebut tidak mampu menampung debit air yang mengalir saat hujan turun.

Baca juga: Wilayah DIY belum memasuki musim hujan

“Saat dulu dibuat, kapasitas drainase belum memperhitungkan dinamika perkembangan wilayah. Di kawasan tersebut masih berupa tanah kosong sehingga ukuran drainase yang dibuat cenderung kecil. Namun kemudian berdiri banyak gedung-gedung besar sehingga dibutuhkan drainase yang lebih besar,” katanya.

Sedangkan di Jalan Menteri Supeno, genangan lebih banyak disebabkan luapan air dari Sungai Manunggal. “Biasanya, genangan hanya terjadi saat hujan yang turun benar-benar lebat, katanya.

Secara umum, lanjut Herka, di Kota Yogyakarta sebenarnya tidak terjadi genangan jika mengacu ketentuan Peraturan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat karena definisi genangan adalah memiliki kedalaman setidaknya 30 centimeter dan berlangsung terus menerus selama dua jam.

“Di Kota Yogyakarta, genangan biasanya sudah hilang dalam waktu kurang dari dua jam karena tanah di Yogyakarta didominasi pasir sehingga mudah menyerap air,” katanya.

Berbagai upaya untuk mengatasi genangan yang sudah dilakukan DPUPKP Kota Yogyakarta di antaranya merevitalisasi saluran drainase dengan memperbesar kapasitas saluran dan rutin melakukan pembersihan saluran dari sampah serta endapan lain yang berpotensi mengurangi kapasitas saluran saat hujan.

Selain itu, DPUPKP Kota Yogyakarta juga melengkapi drainase dengan sumur peresapan air hujan untuk meningkatkan kapasitas drainase. Total panjang drainase di Kota Yogyakarta mencapai sekitar 332 kilometer.

Baca juga: BMKG memprakirakan musim hujan di Bantul pada dasarian dua November

Sejumlah pekerjaan revitalisasi drainase yang dilakukan tahun ini di antaranya di kawasan cagar budaya Kotagede untuk mengatasi genangan yang terjadi di Jalan Mondorakan. Selain itu juga dilakukan perbaikan drainase di Jalan Jogokaryan, Jalan Jagalan, Jalan Manunggal, dan Jalan Indraprasta.

“Untuk di Jalan Indraprasta, masih dalam proses pekerjaan. Harapannya bisa diselesaikan Desember,” katanya.

Herka mengatakan, dalam revitalisasi drainase biasanya diprioritaskan untuk drainase di ruas jalan utama yang mendukung kegiatan ekonomi atau aktivitas pendidikan serta aktivitas umum lainnya. “Misalnya di Jalan Jagalan karena menjadi alternatif ke Jalan Mataram, atau di Jalan Mondorakan karena menjadi jalan yang menghubungkan Bantul dan Kota Yogyakarta,” katanya.

Sedangkan untuk anggaran insidentil perbaikan drainase jika terjadi kerusakan saat musim hujan, Herka mengatakan, hanya tersisa sekitar 10 persen hingga akhir 2019. “Harapannya, tidak ada kerusakan apapun sampai akhir tahun. Untuk 2020, tetap akan ada alokasi anggaran insidentil untuk drainase,” katanya.

Pewarta :
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar