Kematian terkait rokok elektrik di AS meningkat

id Kematian,Akibat vaping,Melonjak,rokok elektrik,e-cigarette

Kematian terkait rokok elektrik di AS meningkat

Arsip foto: Seorang pria mengebulkan asap dari rokok elektronik sambil berjalan di kawasan Broadway di New York City, Amerika Serikat, 9/9/2019. ANTARA/REUTERS/Andrew Kelly/File Photo/tm

Washington (ANTARA) - Jumlah orang yang meninggal karena penyakit yang berkaitan dengan rokok elektrik di Amerika Serikat telah meningkat menjadi 39 orang, kata lembaga perlindungan kesehatan negeri tersebut pada Kamis (7/11).

Lembaga tersebut, Center for Disease Control and Prevention (CDC), mengumumkan bahwa jumlah kasus cedera paru-paru yang berkaitan dengan vaping telah melonjak jadi 2.051 kasus.

Baca juga: "Vape" berbahaya karena bersifat oksidatif dan iritatif

Kasus cedera paru-paru yang berkaitan dengan penggunaan produk e-cigarette, atau vaping, dilaporkan muncul di semua 49 negara bagian, kecuali Alaska, District of Columbia, dan Virgin Islands AS.

"Usia menengah pasien yang meninggal ialah 53 tahun dan berkisar dari 17 sampai 75 tahun," tambah CDC.

Baca juga: Rokok elektrik memicu radang paru-paru

Kebanyakan pasien melaporkan mereka menggunakan vaping THC, bahan psikoaktif pada ganja, kendati para penyelidik belum secara resmi menentukan penyebab penyakit tersebut --yang mencakup gangguan pernafasan, nyeri dada dan muntah.

CDC menyarankan masyarakat agar tidak menggunakan produk rokok elektrik atau vaping yang berisi THC dan agar tidak memodifikasi produk yang dibeli melalui gerai eceran.

Baca juga: Persepsi masyarakat terhadap rokok elektrik masih keliru

Sumber: Anadolu Agency
 
Pewarta :
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar