Realisasi luas tanam padi di Kulon Progo mencapai 19 ribu hektare

id Luas tanam padi,Kulon Progo

Realisasi luas tanam padi di Kulon Progo mencapai 19 ribu hektare

Petani di Kulon Progo memanfaatkan alat mesin pertanian secara optimal dalam pengolahan lahan pertanian. (Foto ANTARA/Sutarmi)

Kulon Progo (ANTARA) - Realiasi luas tanam padi di Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, mencapai 19 ribu hektare dari Januari hingga November ini.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kulon Progo Aris Nugraha di Kulon Progo, Selasa, mengatakan pada tahun ini, rata-rata luas panen mencapai 19 ribu hektare.

"Alhamdulillah, kami dapat mempertahankan luas tanam 19 ribu hektare pada 2019. Serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) juga dapat ditekan dan dapat dikendalikan dengan baik," kata Aris.

Saat ini memasuki masa tanam (MT) untuk golongan II yang dimulai pada November. Saat ini sedang proses persiapan pengolahan tanah. Air mulai dialirkan 1 November oleh Bidang Pengairan DPUPKP.

Lahan persawahan yang memasuki MT I golongan II, yakni Temon, sebagian Wates, sebagian Panjatan, sebagian Sentolo dengan luasan sekitar 4.150 hektare.

"Saat ini, petani akan segera melalukan pengolahan tanah. Harapanya panen pada Maret 2020," katanya.

Ia mengatakan lahan persawahan golongan I sudah melakukan tanam pada Agustus-September seluas 4.181 hektare. Harapanya, panan pada Desember ini.

"Artinya, mulai Desember ini, di Kulon Progo mulai memasuki masa panen, seperti di Galur, Lendah, sebagian Nanggulan. Sehingga diharapkan mampu menekan harga beras di tingkat masyarakat," katanya.

Aris juga mengakui pada masa tanam yang dimulai Agustus ada kendala karena terkendala volume debit Sungai Progo yang dialirkan melalui Intake Kalibawang. Seharusnya, sebit 6 liter kubik perdetik, berkurang di bawah 6 liter kubik per detik. Hal ini berdampak pada mundurnya pengolahan tanah dan masa tanam.

"Kami menyadari pemanaatan air Sungai Progo di Kalibawang dibagi menjadi dua, yakni dialirkan ke Selokan Mataram dan Intake Kalibawang. Saat ini sudah tertangani dengan baik, meski harus mundur tanamnya," katanya.

Ia mengimbau kepada petani untuk segera mengolah sawahnya bila sudah air, dan jangan saling menunggu. Selain itu, ia mengimbau kepada petani mengoptimalkan alat mesin pertanian yang telah diberikan kepada kelompok.

"Hal ini untuk mengantisipasi musim tanam mundur. Jangan sampai mengganggu pola tanam selanjutnya," harapnya.

Salah satu petani Kecamatan Sentolo Sumadi mengatakan pada musim tanam II, dirinya dan petani lainnya tidak dapat menanam padi karena air tidak ada. Selain itu, ada serangan hama wereng yang menyerang tanaman padi.

"Pada masa panen Juni, tidak panen sama sekali. Tanaman padi diserang wereng," katanya.
Pewarta :
Editor: Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar