BMKG: Gempa tektonik dapat meningkatkan aktivitas vulkanisme

id Gampa sleman,gempa tektovolkanik,gempa vuklanik,erupsi gunung

BMKG: Gempa tektonik dapat meningkatkan aktivitas vulkanisme

Ilustrasi - Komunitas Siaga Merapi atau Organisasi Pengurangan Risiko Bencana (OPRB) memantau kondisi Merapi dari Pos Klangon Sleman, D.I.Yogyakarta. (ANTARA)

Jakarta (ANTARA) - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengatakan secara tektovolkanik gempa tektonik dapat meningkatkan aktivitas vulkanisme dengan syarat gunung api sedang aktif, yakni kondisi magma sedang cair dan kaya produksi gas.

"Aktivitas peningkatan vulkanisme memang sensitif dengan guncangan gempa tektonik," kata Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono di Jakarta, Minggu.

Hal itu dijelaskan terkait dengan letusan Gunung Merapi pada Minggu, pukul 10.46 WIB, yang diduga kuat memiliki kaitan dengan peristiwa gempa Sleman bermagnitudo 2,7 pada Sabtu (16/11), pukul 02.54 WIB.

Berdasarkan data Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), kata dia, tinggi kolom letusan Gunung Merapi pada Minggu mencapai sekitar 1.000 meter.

Di samping itu, BMKG mencatat peristiwa gempa Sleman berpusat di sekitar Gunung Merapi. Episenter terletak pada koordinat 7,63 LS dan 110,47 BT, tepatnya di darat, pada jarak 10 kilometer arah selatan dari puncak Merapi pada kedalaman enam kilometer.

"Jadi episenter gempa ini sangat dekat dengan puncak Merapi. Dalam kondisi seperti ini erupsi gunung api mudah dipicu oleh gempa tektonik," kata dia.



Menurut dia, adanya kedua peristiwa itu mirip dengan erupsi Merapi pada 14 Oktober 2019 yang juga didahului oleh serangkaian aktivitas gempa tektonik yang berpusat di sekitar Merapi.

Catatan tentang Merapi pada 2001 dan 2006 menunjukkan bahwa sebelum terjadi erupsi juga didahului oleh aktivitas gempa tektonik.

Dalam kaitan gempa tektonik dan aktivitas vulkanisme, terdapat pula data lain yang serupa di luar negeri. Data menunjukkan bahwa erupsi Gunung Unzen di Jepang dan erupsi Gunung Pinatubo pada 1990 dipicu oleh gempa tektonik.

Ia menjelaskan gempa tektonik dapat meningkatkan stress-strain yang dapat memicu perubahan tekanan gas di kantong magma sehingga terjadi akumulasi gas.

"Kemudian hal ini akan memicu terjadinya erupsi. Namun demikian perlu ada kajian empiris untuk membuktikan kaitan ini," ujar dia.

Pewarta :
Editor: Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar