BPBD Bantul : wilayah kekeringan terdampak kemarau 2019 bertambah

id Kekeringan Bantul

BPBD Bantul : wilayah kekeringan terdampak kemarau 2019 bertambah

Salah satu pedukuhan di Desa Selopamioro Imogiri Kabupaten Bantul, DIY mengalami kesulitan air bersih karena kemarau 2019. (Foto ANTARA/Hery Sidik)

Bantul (ANTARA) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta menyebutkan bahwa wilayah di daerah ini yang mengalami kekeringan karena terdampak kemarau 2019 bertambah dibanding dengan musim kemarau tahun sebelumnya.

"Wilayah yang terdampak bertambah, karena memang di Bantul sudah enam bulan berturut-turut bahkan lebih tidak turun hujan," kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantul Dwi Daryanto di Bantul, Rabu.

Dia mengatakan, beberapa lokasi di Bantul yang pada kemarau-kemarau sebelumnya tidak mengalami kekeringan namun dilaporkan kekeringan akibat kemarau 2019 diantaranya di wilayah Kecamatan Pleret dan sebagian Kecamatan Pajangan.

"Salah satu contohnya di Pleret itu ada beberapa lokasi, kemudian Pajangan yang tidak pernah kekeringan juga walaupun gunung tapi ada permohonan permintaan air bersih, karena memang di Bantul enam bulan berturut turut tidak turun hujan," katanya.

Dia mengatakan belum turunnya hujan di wilayah Bantul hingga awal Desember ini merupakan salah satu daerah yang terpanjang mengalami kemarau, sehingga pada puncak musim kemarau saat ini, merupakan puncak-puncak kering dan masyarakat butuh bantuan air bersih.

"Yang paling panjang itu Bantul tidak turun hujan, lainnya hanya lima bulan, Bantul enam bulan, ini malah lebih, karena kan yang prediksinya pada minggu ke tiga bulan November sudah hujan, namun sempai sekarang ini belum hujan," katanya.

Oleh karena itu, kata dia, instansinya  bersama pihak terkait hingga saat ini masih rutin menyalurkan bantuan air bersih dari donasi masyarakat maupun lembaga nonpemerintah ke wilayah kekeringan di Bantul guna membantu pemenuhan kebutuhan air bersih masyarakat.

"Droping air masih terus dilakukan, jadi selama hujannya itu belum rutin turun di Bantul, masyarakat di wilayah-wilayah terdampak kekeringan masih membutuhkan air bersih, karena justru saat ini merupakan puncak kering-keringnya sumber mata air," katanya.

Ia juga mengatakan, untuk mempersiapkan anggaran droping air pada 2019, pihaknya sudah mengajukan tambahan anggaran ke pemerintah melalui dana tidak terduga (DTT) sebesar Rp40 juta, sehingga totalnya menjadi Rp80 juta bila ditambah dengan anggaran awal sebesar Rp40 juta.

"Anggaran masih, kemarin sudah kita ajukan anggaran DTT sebesar Rp40 juta sehingga dengan yang lama menjadi Rp80 juta. Insya Allah cukup sampai akhir tahun, dan total bantuan air yang sudah didroping sekitar 1.500an tangki, dikalikan 5.000 liter per tangki," katanya.
Pewarta :
Editor: Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar