Kulon Progo intensifkan peningkatan SDM nelayan

id Pelatihan pembuatan jaring,Kulon Progo,DKP Kulon Progo

Kulon Progo intensifkan peningkatan SDM nelayan

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kulon Progo Sudarna. (Foto ANTARA/Sutarmi)

Bantuan alat tangkap ini sebagai bentuk dorongan kepada nelayan supaya mereka lebih mandiri.
Kulon Progo (ANTARA) - Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengintensifkan program peningkatan sumber daya manusia nelayan setempat supaya memiliki keterampilan dan pengetahuan dalam menangkap ikan.

"Dinas Kelautan dan Perikanan setiap tahun membuat program peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) nelayan, seperti pelatihan pembuatan jaring, memperbaiki mesin motor perahu tempel supaya saat mengalami kerusakan dapat memperbaiki sendiri," kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kulon Progo Sudarna di Kulon Progo, Kamis.

Ia mengatakan DKP juga memberikan pelatihan supaya nelayan di Kulon Progo menguasai navigasi. Saat ini, nelayan sudah tahu dan paham teknologi informatika, sehingga saat melaut, mereka tidak lagi mengejar ikan, tetapi langsung menuju lokasi yang ada ikannya.

"Saat ini, orientasi nelayan sudah tidak berburu lagi, tapi sudah menuju lokasi tertentu dengan menggunakan alat navigasi yang dimiliki," katanya.

Baca juga: Kejari Kulon Progo geledah Balai Desa Banguncipto

Selain itu, pada akhir November 2019 kemarin, pihaknya memberikan pelatihan pembuatan dan perawatan jaring insang atau gill net bekerja sama dengan Balai Pendidikan Penyuluhan Perikanan Tegal (BP3T).

"Ada 30 nelayan di Kulon Progo dilatih pembuatan jaring insang dengan harapan nelayan dengan efektif dan efisien bisa memperbaiki jaring atau membuat sendiri dengan bahan baku yang lebih bagus dan murah," kata Sudarna.

Ia mengatakan setiap tahun, DKP selalu memberi bantuan alat tangkap kepada nelayan meski jumlahnya tidak banyak karena menyesuaikan dengan kemampuan keuangan daerah, seperti jaring insang hingga mesin perahu motor tempel.

"Bantuan alat tangkap ini sebagai bentuk dorongan kepada nelayan supaya mereka lebih mandiri," katanya.

Baca juga: Padi seluas 2.987 hektare di Kulon Progo panen

Terkait hasil tangkapan ikan yang sedikit karena nelayan sering tidak melaut, Sudarna mengatakan hal itu disebabkan kondisi cuaca dan gelombang laut yang kurang bersahabat. Seperti diketahui, nelayan Kulon Progo ini masih menggunakan perahu motor tempel (PMT), bukan nelayan yang menggunakan kapal yang ukurannya lebih dari tiga gros ton (gt).

"Kita ketahui juga, nelayan Kulon Progo terkendala pada lokasi pendaratan. Selama Pelabuhan Tanjung Adikarto belum beroperasi, hasil tangkapan belum optimal," katanya.

Sementara itu, Kepala Bidang Pemberdayaan Nelayan Kecil DKP Kulon Progo Sugiharto mengatakan pelatihan pembuatan jaring untuk merumuskan konstruksi alat tangkap yang bisa mereka buat dan digunakan saat mereka melaut.

Hal ini dikarenakan konstruksi jaring di tiap-tiap wilayah berbeda-beda sesuai medan yang akan digunakan untuk kegiatan penangkapan ikan tersebut. Jaring yang dibuat adalah jaring insang ukuran 5,5 inch untuk penangkapan bawal laut.

Ia mengatakan seperti diketahui, jaring insang ada bermacam-macam ukuran, tergantung target tangkapan. Di Kulon Progo sendiri yang menjadi tangkapan primadona adalah bawal laut, menggunakan alat tangkap jaring insang ukuran 4,5 inch sampai dengan 5,5 inch.

"Kami mendorong nelayan Kulon Progo memiliki keterampilan membuat atau merawat, serta mengenali lebih dalam alat tangkap sehingga mereka dapat memanfaatkan alat tangkap di segala situasi laut selatan," katanya.
Pewarta :
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar