Kemenhub kaji operasional bus amfibi untuk Ibu Kota Negara baru

id ibu kota negara baru,yogyakarta

Kemenhub kaji operasional bus amfibi untuk Ibu Kota Negara baru

Diskusi panel dengan tema "Urgensi dan Kesiapan Pemindahan Ibu Kota Negara" di Gedung Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri (PKKH) UGM, Yogyakarta, Sabtu. (FOTO ANTARA/Luqman Hakim)

Yogyakarta (ANTARA) - Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan menyatakan saat ini sedang melakukan kajian terhadap rencana operasional bus amfibi sebagai moda transportasi publik di Ibu Kota Negara baru.

"Sekarang sedang dilakukan semacam survei kajian dulu. Ada beberapa (negara) yang sudah menerapkan teknologi itu dan saya ingin tahu seperti apa," kata Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kemenhub Budi Setiyadi dalam diskusi panel dengan tema "Urgensi dan Kesiapan Pemindahan Ibu Kota Negara" di Gedung Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri (PKKH) UGM, Yogyakarta, Sabtu.

Menurut Budi, bus amfibi memiliki kelebihan karena bisa digunakan sebagai moda transportasi di darat dan perairan mengingat kondisi geografis calon ibu kota baru di Kalimantan Timur banyak terdapat sungai.

"Ibu Kota Negara baru kan banyak sungai jadi memungkinkan," kata dia.

Penggunaan bus amfibi, menurut dia, justru lebih sederhana dan membutuhkan biaya yang relatif lebih murah karena tidak memerlukan pembangunan dermaga untuk transportasi di perairan.

"Kalau mobil bus seperti itu tidak butuh dermaga, cuma mungkin (butuh) plengsengan untuk turun (bus amfibi) saja," kata dia.

Seperti beberapa negara yang telah menggunakan bus amfibi, Budi kembali menegaskan bahwa rencana itu tak main-main untuk dikaji di Ibu Kota Negara baru.

"Kemarin sudah ada beberapa yang ingin presentasi ke saya terkait bus amfibi ini," kata Budi.
Pewarta :
Editor: Eka Arifa
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar