RSUD Wonosari Gunung Kidul merawat belasan pasien DBD

id DBD,Gunung Kidul,RSUD Wonosari

RSUD Wonosari Gunung Kidul merawat belasan pasien DBD

Ilustrasi - Seorang anak yang terjangkit penyakit demam berdarah dengue (DBD) mendapat perawatan intensif tenaga medis di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dumai di Kota Dumai, Riau, Rabu (27/11/2019). ANTARA FOTO/Aswaddy Hamid/ama.

Gunung Kidul (ANTARA) - Rumah Sakit Umum Daerah Wonosari Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta merawat 12 pasien Demam Berdarah Dengue, di mana salah satunya, Alifa Rosita (11), warga Desa Wareng meninggal dunia setelah menjalani perawatan pada Jumat (10/1).

Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi RSUD Wonosari Sumartana di Gunung Kidul, Selasa, mengatakan pada awal Januari ini, RSUD setempat sudah merawat 12 pasien DBD.

"Dari 12 pasien yang dirawat di RSUD Wonosari meninggal dunia atas nama Alifa Rosita. Pasien positif DBD. Kami sempat merawat, tapi nyawanya tidak bisa ditolong," kata dia.

Ia mengatakan tim medis sudah berusaha untuk menolong korban, tetapi berdasarkan hasil pemeriksaan, pasien terlambat dirujuk ke rumah sakit sehingga nyawanya tidak tertolong.

"Pasien dibawa ke rumah sakit sudah dalam kondisi parah. Kami sudah berupaya maksimal menangani pasien, tapi pasien tidak tertolong,” katanya.

Pihaknya sudah melapor ke Dinas Kesehatan atas adanya pasien DBD meninggal.



Dia menjelaskan pasien meninggal itu sebagai yang pertama pada 2020. Pada 2019, RSUD merawat 297 pasien DBD, tetapi tidak ada yang sampai meninggal dunia.

Da menambahkan untuk mengurangi risiko fatal penyakit DBD, masyarakat diminta mengenali cirri-ciri awal penyakit yang disebabkan oleh nyamuk aides agepty itu.

Pengenalan tanda penyakit demam berdarah itu, kata dia, sebagai langkah penting untuk menyelamatkan korban.

"Kami mengimbau kepada masyarakat untuk jeli terhadap gejala DBD. Kalau ada gejala panas segera diperiksakan ke puskemas terdekat supaya dapat ditangani dengan cepat," kata dia.

Kepala Dinas Kesehatan Gunung Kidul Dewi Irawati mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit DBD.

Sesuai dengan siklus berkembangbiak nyamuk, kata dia, musim hujan merupakan waktu yang rawan terjadinya serangan DBD.

"Hal itu perlu diantisipasi agar penyebaran penyakit DBD tidak semakin meluas,” kata dia.
 
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar