Ustadz: Umat Muslim harus menjadi rahmat bagi semesta alam

id umat muslim,islam,ustadz

Ustadz: Umat Muslim harus menjadi rahmat bagi semesta alam

Suasana pengajian bertema "Jalin Ukhuwah Islamiyah Demi Tegaknya NKRI, Tolak Radikalisme, Komunisme, dan Terorisme", di Masjid Suciati Saliman (HO-Humas)

Yogyakarta (ANTARA) - Umat Muslim di manapun berada harus bisa menjadi rahmat bagi semesta alam, termasuk menciptakan rasa aman, kata Ustadz Hanan Yasir.

"Islam mengajarkan umatnya untuk selalu menciptakan rasa aman bagi dirinya sendiri, orang lain maupun lingkungan sekitarnya," katanya pada pengajian di Masjid Suciati Saliman, Pandowoharjo, Sleman, DIY, Kamis (16/1).

Pada pengajian bertema "Jalin Ukhuwah Islamiyah Demi Tegaknya NKRI, Tolak Radikalisme, Komunisme, dan Terorisme",  Ustadz Yasir mengingatkan aman merupakan nikmat besar yang diberikan Allah kepada umatnya.

"Bahkan, hal itu diabadikan dalam Al Quran ketika Nabi Ibrahim selesai membangun Kabah. Nabi Ibrahim berdoa kepada Allah SWT agar menjadikan tempat ini (Mekkah) menjadi negeri yang aman. Kenapa Nabi Ibrahim bedoa seperti itu, karena aman adalah nikmat yang paling agung," katanya.

Menurut dia, kalau ada rasa nikmat aman di masyarakat dan tidak ada gejolak ibaratnya umat punya isi dunia. Aman akan bisa membuat umat beribadah karena tidak takut untuk ke masjid.

"Namun, kalau di dalam masyarakat ada radikalisme, komunisme, dan terorisme, niscaya kehancuran hanya tinggal tunggu waktunya. Rasa aman membuat kita tidak merasa khawatir ada serangan bom, misalnya. Kita punya kewajiban untuk sama-sama menjaga keamanan dan ketertiban," katanya.

Ia mengatakan, Islam selalu mengajarkan kedamaian dan jauh dari kekerasan. Jika ada tindak kekerasan dengan mengatasnamakan Islam, maka itu jelas sudah keluar dari konteks Islam.

"Islam tidak pernah mengajarkan radikalisme apalagi tindak terorisme. Jika ada yang melakukan hal tersebut dengan mengatasnamakan Islam, maka itu bukanlah bagian dari Islam dan harus ditanyakan kembali keislamannya," kata Ustadz Yasir.

Kasibinturmas Dit Binmas Polda DIY Kompol Handiko Widiyanto mengajak jamaah untuk menghargai adanya perbedaan yang dimiliki Indonesia.

Menurut dia, radikalisme, komunisme, dan terorisme sangat tidak menghargai keberagaman dan perbedaan seperti bangsa Indonesia yang terdiri dari berbagai suku, ras, dan agama.

"Marilah kita tingkatkan rasa toleransi atas keberagaman dengan membawa rahmat kepada seluruh manusia. Mari kita menjaga kerukunan bangsa Indonesia," kata Handiko.

Ia menuturkan, rasa aman menjadi tanggung jawab bersama. Dengan terciptanya keamanan dan ketertiban maka gangguan yang bisa memecah belah warga dapat ditangkal.

"Paham radikal maupun gerakan terorisme tidak akan tumbuh dalam lingkungan aman. Aman tidak bisa tercipta dengan sendirinya tanpa ada peran serta bersama dan kesadaran untuk menciptakannya," kata Handiko.

Pemilik masjid megah di Jalan Gito Gati Hj Suciati Saliman Riyanto mengatakan pentingnya pemahaman tentang bahaya terorisme bagi para santri maupun jamaah mendorong Masjid Suciati Saliman menyelenggarakan acara pengajian tersebut.

Menurut dia, selain sebagai rumah ibadah umat Muslim, masjid harus menjadi tempat yang mampu memberikan kedamaian. Bukan malah sebaliknya menjadi tempat untuk mengajarkan paham sesat maupun radikal kepada jamaahnnya.

Materi khutbah, ceramah maupun kajian yang diberikan di dalam masjid harus menyejukkan. Pihak pengelola masjid juga harus selektif dalam memilih penceramah, bila perlu diberikan rambu-rambu tentang apa saja materi yang akan diberikan.

"Mari kita dukung aparat pemerintah untuk memberantas terorisme di Indonesia khususnya di wilayah Yogyakarta. Stigma masjid yang selalu dijadikan tempat untuk mendoktrin jamaah untuk menjadi eksklusif atau lebih ke arah pemahaman yang tidak benar dan dilarang oleh negara akan kita hilangkan," kata Suciati.

Ia menegaskan, Masjid Suciati Saliman dalam mendatangkan para ustadz untuk mengisi kajian di masjid selalu selektif. Jangan sampai mengundang ustadz yang kontroversial atau banyak ditentang oleh masyarakat.

"Kalau kami mendatangkan ustadz yang banyak ditolak oleh masyarakat itu malah bikin kami repot sendiri, kami tidak mau seperti itu," katanya.

Suciati mengharapkan, dengan adanya kegiatan seperti ini ke depan para jamaah dapat paham akan bahaya radikalisme, terorisme,  dan komunisme yang dapat merongrong NKRI.
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar