Dinkes: Satu warga Sleman meninggal akibat leptospirosis

id Leptospirosis,Dinkes Sleman,Kabupaten Sleman,Sleman

Dinkes: Satu warga Sleman meninggal akibat leptospirosis

Leptospirosis itu disebabkan oleh kencing atau kotoran tikus. (Foto Antara)

Sleman (ANTARA) - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, menerima laporan tiga kasus pasien terjangkit penyakit leptospirosis pada awal tahun 2020 dengan satu pasien meninggal dunia.

"Satu orang yang meninggal dunia ditangani Puskesmas Depok 2, sedangkan kondisi dua pasien lain sudah berangsur membaik," kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sleman Novita Krisnaeni di Sleman, Sabtu.

Menurut dia, saat ini Dinkes Sleman sedang melakukan audit kejelasan pasien yang meninggal.

"Sedangkan dua orang pasien lain telah melewati masa kritis, dan keadaannya membaik," katanya.

Ia mengatakan warga yang meninggal dunia diduga akibat leptospirosis, keseharian merupakan pedagang di salah satu pasar tradisional daerah Kecamatan Depok.

"Ini menjadi peringatan bagi masyarakat bahwa leptospirosis tidak hanya rentan menyerang petani yang sering beraktivitas di sawah. Bakteri Leptospira interrogans yang ditularkan melalui air kencing tikus itu juga dapat dijumpai di tempat-tempat yang kotor baik di rumah, pasar, atau selokan," katanya.



Novita mengatakan, pencegahan penyakit ini dapat dilakukan dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, seperti membiasakan mencuci tangan dan kaki setelah beraktivitas di luar ruangan.

"Pada musim hujan, antisipasi penyakit ini perlu ditingkatkan mengingat peluang risikonya lebih tinggi karena banyak genangan. Bakteri penyebab leptospirosis biasanya masuk ke dalam tubuh manusia lewat luka. Tapi juga bisa melalui mukosa," katanya.

Ia mengatakan gejala umum yang dirasakan penderita penyakit ini adalah panas, mual, nyeri, dan muntah. Disamping itu ada pula gejala khas berupa nyeri pada bagian betis, dan warna mata berubah menjadi kuning.

"Jika sudah parah, bisa mengakibatkan kerusakan ginjal. Pengobatan penyakit ini sendiri cukup menggunakan antibiotik yang tersedia di seluruh puskesmas," katanya.

Saat ini, kata dia, seluruh puskesmas di Sleman juga telah dilengkapi layanan rapid test yang dapat mendeteksi gejala leptospirosis sejak awal.*
 
Pewarta :
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar