Dinkes Bantul menginstruksikan rumah sakit antisipasi penyakit antraks

id Dinkes Bantul

Dinkes Bantul menginstruksikan rumah sakit antisipasi penyakit antraks

Kantor Dinas Kesehatan (Dinkes) Bantul, DIY (ANTARA/Hery Sidik)

Bantul (ANTARA) - Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta menginstruksikan semua rumah sakit di daerah ini mengantisipasi penyebaran penyakit antraks pada manusia menyusul adanya kasus antraks yang menjangkit puluhan warga di Kabupaten Gunung Kidul.

"Dari Dinas Kesehatan (Dinkes) sudah memberi edaran kepada direktur rumah sakit di Bantul untuk antisipasi ini (antraks), dengan melakukan pengamatan pada pasien bila ada yang dicurigai karena gejala-gejala kena antraks," kata Kepala Dinkes Bantul Agus Budi Raharjo di Bantul, Rabu.



Menurut dia, kasus antraks yang terjadi Gunung Kidul sejak beberapa pekan lalu, memang belum menyebar sampai Bantul, meski diharapkan tidak meluas sampai kabupaten tetangga, namun upaya pencegahan dan deteksi dini tetap harus dilakukan.

"Upaya lain kita juga selalu melakukan edukasi kepada masyarakat untuk pencegahan dan juga deteksi dini, sehingga apabila ada laporan bisa segera kita periksa," katanya.

Menurut dia, ciri-ciri manusia yang terpapar antraks atau penyakit menular yang ada pada hewan ternak tersebut mengena di empat titik, yaitu saraf yang bisa berakibat fatal, kemudian muncul kulit menghitam sebesar koin, selain itu demam, sesak nafas dan gangguan pencernaan.



"Ciri yang paling tampak itu di kulit menjadi hitam sebesar koin, gejala awal itu panas tidak terlalu tinggi, tapi tidak turun-turun bisa sampai satu minggu lebih, kalau pernafasan jadi sesak, kemudian pada pencernaan jadi diare. Jadi kalau ada gejala seperti itu kita curigai atau suspect," katanya.

Sementara itu, Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian, Pangan, Kelautan dan Perikanan Bantul Joko Waluyo menjelaskan, untuk ciri-ciri ternak yang terkena antraks itu seperti suhu badan naik, nafas agak terengah-engah, hampir kejang-kejang, seandainya hampir kematian mengeluarkan darah dari semua lubang alami.

Joko Waluyo mengatakan, belum lama ini di Bantul ada laporan kematian ternak di tiga lokasi yaitu di wilayah Kecamatan Kretek, Dlingo dan Pleret, akan tetapi setelah dilakukan cek laboratorium di Balai Besar Veteriner Wates Yogyakarta semuanya negatif antraks.

"Jadi (mati) bukan karena antraks, tapi karena kembung. Jadi sampai saat ini Alhamdulillah di Bantul masih aman, dan Bantul itu salah satu kabupaten penyuplai kebutuhan daging DIY, 70 persen kebutuhan daging DIY itu dari Bantul, karena kita pemotongan ternak tertinggi sekitar 700 ekor per hari," katanya.
 
Pewarta :
Editor: Sutarmi
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar