Forkom Deswita meminta pengelola cari alternatif pengganti susur sungai

id Susur sungai,Desa wisata,Lembah Sempor,Desa wisata Sleman,Forum Komunikasi desa wisata,Kabupaten Sleman

Forkom Deswita meminta pengelola cari alternatif pengganti susur sungai

ILustrasi. Seorang pengunjung mencoba sensasi susur sungai Pusur di Polanharjo, Klaten, Jawa Tengah, Rabu (1/1/2020). ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho/foc.

Sleman (ANTARA) - Forum Komunikasi (Forkom) Desa Wisata (Deswita ) Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta meminta semua pengelola desa wisata untuk sementara dapat mencari alternatif selain kegiatan susur sungai yang lebih aman selama musim hujan dan sesuai instruksi Bupati Sleman terkait larangan kegiatan di ruang terbuka belum dicabut.

"Sebenarnya kegiatan di desa wisata bukan hanya susur sungai, masih banyak alternatif lain yang tidak kalah serunya," kata Ketua Forkom Desa Wisata Kabupaten Sleman Doto Yogantoro di Sleman, Sabtu.

Menurut dia, diakui adanya kebijakan tersebut membawa dampak yang signifikan terhadap sejumlah desa wisata, seperti pembatalan kegiatan dari sekolah-sekolah.

"Banyak sekolah di Sleman yang membatalkan kegiatan outbound di desa wisata. Namun kami juga dapat memahami karena masih dalam masa berkabung pasca-insiden kecelakaan sungai SMPN 1 Turi. Saat ini kan sedang dievaluasi," katanya.

Ia mengatakan, terdapat sekitar 10 desa wisata di lereng Gunung Merapi yang terimbas antara lain Desa Wisata Pentingsari, Garongan, Pulesari, dan Pancoh, dan yang paling banyak terdampak adalah desa wisata di Kecamatan Turi.

"Rata-rata ada 3 hingga 5 grup yang membatalkan booking. Pendapatan yang hilang berkisar Rp5 juta hingga Rp10 juta dari masing-masing grup," katanya.

Doto mengatakan, instruksi penangguhan kegiatan susur sungai yang belum pasti diketahui hingga kapan berlakunya tersebut, diharapkan tidak berlangsung lama.

"Karena sejumlah desa wisata tidak hanya mengandalkan kegiatan susur sungai saja, melainkan banyak hiburan lainnya. Harapannya kondisi ini tidak berlangsung lama. Karena ada banyak alternatif kegiatan di desa wisata, tidak hanya susur sungai, bisa juga dialihkan ke aktivitas di ruang tertutup," katanya.

Ia mengatakan, untuk memberi jaminan kepada wisatawan, tiap pengelola desa wisata sudah memiliki standar operasional prosedur (SOP) masing-masing. Di dalamnya termasuk peralatan keselamatan, dan pemandu yang memiliki keahlian di bidangnya.

"Kami selalu ada persiapan apa-apa saja yang dibutuhkan. Termasuk pengelola selalu memonitor kondisi cuaca melalui informasi BMKG," katanya.

Ia juga meminta kepada masyarakat atau instansi yang akan melakukan kegiatan susur sungai agar selalu berkoordinasi dengan pemangku wilayah setempat. Apalagi jika membawa rombongan dalam jumlah besar tentunya harus dipikirkan juga kemungkinan resiko yang ada.

"Dengan adanya koordinasi bisa disiapkan langkah antisipasinya, baik lokasi sungai itu biasa digunakan untuk outbond oleh pengelola desa wisata atau tidak," katanya.

Pengelola Desa Wisata Lembah Sempor, Dukuh, Wonokerto Turi Dudung Laksono mengatakan sedikitnya ada lima jadwal yang terpaksa dibatalkan menyusul adanya instruksi Bupati Sleman tersebut.

"Selain karena adanya instruksi bupati, penyebab lainnya kemungkinan karena adanya ketakutan dari sejumlah wisatawan.

Ia mengatakan, tarif setiap grup wisatawan yang berjumlah sekitar 40 orang berkisar antara Rp4 juta hingga Rp6 juta. Dari jumlah itu, kerugian yang diderita desa wisata Lembah Sempor mencapai sekitar Rp25 juta.

"Tidak hanya di sini saja, desa wisata lain yang ada susur sungainya juga sama, ada pembatalan wisata," katanya.

Dudung juga tak ingin mempermasalahkan kaitan antara kecelakaan di Sungai Sempor dengan adanya instruksi Bupati yang berujung pada pembatalan sejumlah jadwal.

"Kegiatan susur sungai dipastikan aman jika dipandu langsung oleh pemandu dari desa wisata itu sendiri," katanya.

Ia menegaskan, pihaknya tidak ingin menyalahkan siapa-siapa atas dampak ini. Namun susur sungai akan aman kalau dipandu dengan pemandunya langsung.

"Selain sudah hafal medan, pengelola juga mempunyai tim yang selalu berkoordinasi perihal cuaca maupun kondisi lainnya," katanya.
 
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar