BEM Nusantara kenang kembali romantisme Yogyakarta

id bem

BEM Nusantara kenang kembali romantisme Yogyakarta

Pemukulan gong oleh Dr H Waryono sebagai tanda pembukaan seminar dan konsolidasi BEM Nusantara se-Jawa 2020. (HO-BEM Nusantara)

Yogyakarta (ANTARA) - Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Nusantara mengenang kembali romantisme Yogyakarta melalui temu BEM lintas perguruan tinggi di kota ini selama dua hari.

"Pada 2003-2004 lahir BEM Nusantara. Sedangkan pada 2020 digelar temu BEM Nusantara se-Jawa yang dilangsungkan di UIN Sunan Kalijaga dan Asrama Haji Yogyakarta pada 3-4 Maret," kata Koordinator Daerah (Korda) BEM Nusantara DIY Ahmad Marzuki Toekan.

Menurut dia, konsolidasi ini merupakan realisasi dari kesepakatan BEM se-Jawa saat pra-temu BEM Nusantara yang berlangsung di Bandung tahun lalu.

"Konsep konsolidasi BEM Nusantara se-Jawa adalah mengangkat gagasan BEM se-Jawa. Di mana gagasan tersebut bakal ditawar saat temu BEM Nusantara yang akan digelar di Surabaya pada April 2020," katanya.

Konsolidasi BEM Nusantara se-Jawa diawali dengan seminar nasional. Sebenarnya seminar tidak termasuk dalam agenda konsolidasi. "Tapi sengaja digelar untuk mengantipasi radikalisme masuk kampus," katanya.

Menurut dia, media tengah gencar memberitakan radikalisme yang terjadi di lingkungan kampus. Dia menambahkan perlu ada kajian mengenai hal tersebut. "Terlepas dari isu nasional yang kita angkat. Internal di kampus perlu terlebih dahulu diperhatikan," katanya.

Ia menegaskan, seluruh BEM di DIY menolak radikalisme. Radikalisme sangat berbahaya karena mengganggu kedaulatan RI dan ideologi Pancasila. Oleh sebab itu, diperlukan antisipasi berupa sosialisasi.

"Dengan konsep kebangsaan mengenal kembali ideologi Pancasila, kami adakan seminar untuk 'follow up' perbincangan tentang kebangsaan," kata Ahmad. 

Senada, Korda BEM Nusantara se-Jawa Cahya Nugraha menyatakan penolakan terhadap radikalisme, karena radikalisme dapat menjadi faktor penyebab perpecahan.

"Kami tetap mengutamakan kebangsaan dan Pancasila sebagai kajian. Sebelum kami mengkritik tentang regulasi kebijakan pemerintah," katanya.

Cahya mengklaim tidak ada anggota BEM Nusantara yang terpapar radikalisme. "Yang kami ketahui di BEM Nusantara dan di kampus kawan-kawan belum ada laporan," katanya.

Konsolidasi BEM Nusantara se-Jawa menjadi wadah tukar pendapat dan informasi. Dalam membahas radikalisme, solusi menjadi poin utamanya. "Dengan demikian, hal-hal yang sifatnya radikalisme bisa dibendung atau bahkan dilawan,” terangnya.

Wakil Rektor 3 Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama UIN Sunan Kalijaga Dr Waryono mengharapkan suasana aman dan nyaman akan menghasilkan konsolidasi positif. Dibarengi pikiran yang jernih, konsolidasi juga diharapkan dapat sebenar-benarnya berguna bagi masyarakat.

"Saya selaku pimpinan UIN Sunan Kalijaga mengucapkan terima kasih, terutama kepada Korda BEM Nusantara se-Jawa yang mempercayakan pertemuan ini di UIN Sunan Kalijaga," ucap Waryono.
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar