Raja dan Ratu Belanda mengunjungi pameran inovasi di UGM

id belanda,UgM,Raja Willem Alexander,Ratu Maxima Zorreguieta Cerruti,batik

Raja dan Ratu Belanda mengunjungi pameran inovasi di UGM

Ratu Belanda Maxima Zorreguieta Cerruti melihat batik tulis yang diproduksi dengan alat buatan dosen UGM dalam pameran karya inovasi di Balairung UGM, Yogyakarta, Rabu (3/11/2020). (FOTO ANTARA/Luqman Hakim)

Yogyakarta (ANTARA) - Raja Belanda Willem Alexander dan Ratu Maxima Zorreguieta Cerruti mengunjungi pameran karya inovasi civitas akademika Universitas Gadjah Mada (UGM) di Balairung UGM, Yogyakarta, Rabu.

Raja Willem dan Ratu Maxima mengunjungi gerai pameran yang berbeda. Raja Willem melihat karya inovasi manajemen air, sedangkan Ratu Maxima dengan didampingi Rektor UGM Panut Mulyono melihat mesin batik tulis "Butimo" karya dosen UGM yang mampu menghasilkan kain batik dalam waktu singkat.

"Kami menunjukkan beberapa inovasi dari mahasiswa dan dosen kami. Kami percaya inovasi ini menjadi titik masuk yang baik bagi kolaborasi kita di masa mendatang," kata Panut Mulyono.

Ia menjelaskan ada tujuh inovasi yang dipamerkan.

Ketujuh Inovasi itu adalah Gama-Inatek (Early Warning System untuk tanah longsor), Butimo (mesin batik tulis), Wujudkan (pengelolaan air), Bantu Ternak (penggalangan dana investasi untuk peternakan), Andil (platform investasi untuk pertanian), Jadibisa (startup bidang pendidikan), dan Indonesia Digital Museum (digitalisasi koleksi museum Indonesia).

Raja Willem dan Ratu Maxima mengunjungi UGM dengan didampingi Menteri Luar Negeri Belanda Stephanus Abraham Blok, dan Duta Besar Belanda untuk Indonesia  Rob Swartbol.

Keduanya juga sempat mendengarkan beberapa presentasi dari sejumlah peneliti dari tiga disiplin ilmu berbeda, yakni kesehatan, biologi, dan hukum.

Untuk bidang kesehatan, perwakilan UGM menyajikan kerja sama yang telah dilakukan dengan berbagai institusi di Belanda, salah satunya dengan Queen Maxima Hospital.

Di bidang hukum, kerja sama juga telah banyak dijalankan mengingat banyak warisan hukum Belanda yang masih hidup di Indonesia. Untuk bidang biologi, UGM menyajikan keragaman hayati anggrek serta riset terkait "zebra fish" yang merupakan hasil kerja sama dengan Leiden University di Belanda.
Raja Belanda Willem Alexander melihat inovasi pengelolaan air buatan dosen UGM dalam pameran karya inovasi di Balairung UGM, Yogyakarta, Rabu (11/3/2020). (FOTO ANTARA/Luqman Hakim)


Dalam kesempatan itu, dosen Fakultas Biologi UGM Dr Endang Semiarti mengundang Ratu Maxima untuk mengawinkan anggrek spesies Indonesia yang kemudian diberi nama Vanda Tricolor Lindley Queen Maxima.

Penggunaan nama Ratu Maxima ditujukan untuk menandai peran serta dukungan Belanda terhadap pelestarian biodiversitas di Indonesia.

Panut mengatakan kolaborasi antara UGM dan Belanda telah berlangsung lama dan telah menunjukkan berbagai hasil yang memuaskan. Kehadiran Raja dan Ratu Belanda, menurutnya, akan semakin memperkuat kerja sama tersebut.

"Belanda lebih dari sekadar sahabat bagi Indonesia. Kami merasa sangat terhormat dapat menjadi tuan rumah bagi kunjungan yang bersejarah dari Raja dan Ratu Belanda di universitas kami," kata Panut.

Perwakilan dari Dutch Universities Association Prof Wim van den Doel memaparkan tiga rencana kolaborasi, salah satunya program Week for Indonesian-Netherlands Education and Research (WINNER) 2020 kerja sama antara institusi tersebut dengan LIPI.

"Saya mengundang Anda semua untuk bisa mengikuti program ini. Ini adalah kegiatan yang baik sekali," kata Van den Doel.

Di samping itu, ia juga mengumumkan pembentukan Boscha Medal yang merupakan penghargaan terhadap ilmuwan Indonesia dan Belanda yang memberikan kontribusi berarti pada perkembangan ilmu pengetahuan dan relasi antara Indonesia dan Belanda.

Ia meminta UGM untuk dapat menominasikan kandidat yang layak untuk menerima penghargaan tersebut melalui Kedutaan Besar Belanda untuk Indonesia.

Untuk mendorong kerja sama ilmiah antara Indonesia dan Belanda, pemerintah kedua negara juga meluncurkan program hibah penelitian senilai 3 juta Euro.

Peluncuran hibah ini secara simbolik ditandai dengan pemukulan gong oleh Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi didampingi oleh Menteri Luar Negeri Belanda Stephanus Abraham Blok dan Menteri PUPR Basuki Hadimuljono.
 
Pewarta :
Editor: Hery Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar