Pahatan batu dinamis karya seniman Zimbabwe mendapat pengakuan dunia

id seni patung,zimbabwe

Pahatan batu dinamis karya seniman Zimbabwe mendapat pengakuan dunia

Pematung Zimbabwe Dominic Benhura mengerjakan karya seni di studionya di Harare, Zimbabwe, 2 Maret 2020. Foto diambil 2 Maret 2020. REUTERS / Philimon Bulawayo (reuters.com)

Benhura sekarang adalah seniman yang diakui dunia ...
Harare (ANTARA) - Ketika Dominic Benhura mulai memahat patung batu tradisional Zimbabwe saat masih remaja empat dasawarsa lalu, ia tidak pernah membayangkan bahwa seni akan membawanya pada ketenaran maupun kekayaan.

Lahir dari keluarga petani pada 1968 di Murewa, 90 kilometer timur laut Harare, Benhura sekarang adalah seniman yang diakui dunia serta seorang ikon terkemuka di bidang tersebut.

Para pemahat dari kelompok etnis Shona Zimbabwe menggunakan alat-alat sederhana untuk memahat seni yang sangat ekspresif pada balok-balok batu yang berat, yang seringkali berbobot beberapa ton.

Mereka mengeksplorasi tema-tema tradisional Afrika seperti ibu dalam bentuk realis dan abstrak yang secara berkala menarik perhatian para kurator di Barat yang sangat jauh.

Baca juga: Restoran Cape Town menangi rekor milkshake dunia Guinness

Bentuk seni ini mengikuti garis keturunan kekaisaran abad pertengahan Great Zimbabwe, yang didirikan pada abad ke-11, dengan artefak paling terkenalnya adalah elang ikan yang dipahat dari batu sabun.

Pameran patung Shona telah berlangsung selama sebulan terakhir di pusat seni ValleyArts New Jersey, AS. Patung Shona juga dipajang di Museum Seni Modern New York, Museum Sejarah Alam Chicago, Museum Seni Indianapolis serta Museum Inggris.

Benhura belajar seni dari pematung lain, termasuk sepupunya sendiri, setelah pindah ke ibu kota Harare pada 1979, sebelum Zimbabwe memenangkan kemerdekaan dari Inggris.

"Saya sangat terpesona oleh orang-orang yang membuat sesuatu dari batu, jadi saya bertanya kepada mereka apakah saya dapat membantu mereka memoles dan menyelesaikan pekerjaan mereka," katanya kepada Reuters di bengkel kerjanya.

Akhirnya, Benhura menemukan gayanya sendiri. Pekerjaan pendahulunya sebagian besar statis, katanya, jadi dia membuat bentuk dalam gerakan.

“Seni saya merayakan kehidupan dan saya terinspirasi oleh kehidupan saya sehari-hari. Saya mengerjakan binatang, tumbuhan, burung, tetapi saya lebih suka perempuan dan anak-anak,” katanya, menjelaskan ini karena ia dibesarkan oleh ibu dan bibinya setelah ayahnya meninggal tak lama sebelum ia dilahirkan.

Baca juga: Camat dan lurah Yogyakarta diminta bantu sosialisasi sensus penduduk daring

Pekerjaan Benhura mendorongnya keluar dari kemiskinan dan awal tragedi keluarga menuju hidup yang diberkati. Pada usia 23, ia membeli rumah pertamanya di salah satu kota Harare. Dia sekarang tinggal dan bekerja pada galeri di salah satu pinggiran kota yang lebih makmur.

Ia juga memiliki pameran permanen di Atlanta, Colorado, Museum Victoria di Melbourne, Australia, dan di Siena, Italia.

"Semakin Zimbabwe terkenal dengan patung batu ini .... kami tidak memiliki banyak benda di museum karena di Afrika kami tidak memiliki museum (yang cukup) untuk kami sendiri," keluh Benhura.

"Saya berharap kami memiliki lebih banyak sehingga pekerjaan kami juga dipertahankan di Afrika untuk generasi masa depan.". Sumber : Reuters.com
 
Pewarta :
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar