Stok gula pasir di tingkat pedagang Gunung Kidul menipis

id Gula pasir,Stok menipis,Gunung Kidul

Stok gula pasir di tingkat pedagang Gunung Kidul menipis

Stok gula pasir di tingkat pedagang menipis. Diparindag memantua ketersediaan kebutuhan pokok di pasar-pasar rakyat. (Foto ANTARA/Sutarmi)

Gunung Kidul (ANTARA) - Stok gula pasir di tingkat pedagang di Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, mulai menipis seiring tingginya permintaan menjelang Ramadhan 1441 H sehingga perlu tindakan cepat dari Bulog.

"Banyak toko-toko hingga warung yang mengalami keterbatasan persediaan gula pasir. Apalagi ini sudah mendekati bulan puasa di mana permintaan mulai meningkat, harga gula jadi ikut naik," kata Sekretaris Disperindag Gunung Kidul Virgilio Soriano di Gunung Kidul, Selasa.

Untuk mengantisipasi kenaikan harga gula pasir dan stok habis ini, pihaknya masih terus melakukan pemantauan terhadap situasi harga gula pasir.

Terakhir, pihaknya sudah melaporkan kepada Disperindag DIY terkait dengan kondisi yang terjadi di lapangan. Selain itu, pihaknya telah melakukan koordinasi dengan Bulog dan pedagang di pasar.

“Kami sudah cek ke lapangan. Untuk persediaan memang masih cukup, tapi harganya sangat tinggi, sekitar Rp18 ribu per kilogram bahkan ada eceran yang lebih tinggi,” katanya.

Salah satu pedagang kebutuhan pokok di Pasar Argosari Kunto, mengatakan harga grosir gula pasir saat ini menyentuh Rp18 ribu hingga Rp19 ribu per kilogram.

Tingginya harga gula pasir ini terjadi sekitar empat hari belakangan. Meskipun demikian ia tetap memilih menyediakan stok gula pasir dengan harga yang disesuaikan.

"Kalau harga eceran berkisar Rp19 ribu hingga Rp20 ribu per kilogram. Stok gula pasir sudah menipis karena pasokan dari distributor dibatasi," katanya.

Berbeda lagi dengan Trisna, salah satu pemilik toko kelontong di Kecamatan Patuk ini memilih mengurangi jumlah stok gula pasir yang dijual. Apalagi gula pasir makin sulit dicari dengan harga yang tinggi.

Ia mengatakan biasanya dirinya membeli satu kuintal gula pasir dalam bentuk karung, saat ini ia hanya berani menyetok sebanyak 10 hingga 20 kilogram. Stok tersebut ia jual untuk waktu dua minggu.

"Saya membeli sedikit dari biasanya karena takut nanti harga tiba-tiba malah turun," katanya.
Pewarta :
Editor: Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar