Pemkab Gunung Kidul dirikan sembilan pos "screening" pemudik

id Pos titik screening,COVID-19,Gunung Kidul,penanganan corona,virus corona,corona,covid-19,2019-ncov,novel coronavirus 201

Pemkab Gunung Kidul dirikan sembilan pos "screening" pemudik

Wakil Bupati Gunung Kidul Immawan Wahyudi. (Foto ANTARA/Sutarmi)

Gunung Kidul (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, akan mendirikan sembilan titik pos "screening" karena gelombang pemudik ke wilayah ini sudah mencapai 2.030 orang dari daerah terjangkit COVID-19.

Wakil Bupati Gunung Kidul Immawan Wahyudi di Gunung Kidul, Jumat, mengatakan rencananya sembilan titik pos screening ditempatkan di pintu-pintu masuk wilayah ke Gunung Kidul.

"Nantinya pemudik akan dicek kondisi tubuhnya dan di semprot dengan desifeksi di titik-titik tersebut," kata Immawan.

Ia mengatakan screening ini dikhususnya bagi pemudik yang menggunakan angkutan umum. Secara teknis nanti mereka turun dari bus atau kendaraan kemudian di semprot dan diperiksa suhu tubuhnya.

Tujuannya untuk mempermudah pengawasan sehingga mereka dapat terpantau asal dan tujuan mereka.

"Jadi pemantauanya lebih mudah. Mereka datang dari mana dan tujuannya kemanana. Ada nomor kontak yang ditinggalkan," kata Immawan.

Namun demikian, Immawan mengakui titik yang menjadi pos screening belum ditentukan. Rencananya, penentuan titik tersebut menjadi kewenangan gugus tugas dan Kecamatan. Seandainya ada wilayah yang memiliki balai desa atau lapangan dapat digunakan sebagai pos. Kemudian bagi yang tidak pemerintah menyiapkan tenda.

"Kalau tenda kita siapkan, saya rasa cukup jumlahnya jadi tidak perlu khawatir," terang dia.

Immawan juga mengimbau kepada pemudik untuk taat dan sadar diri terhadap kondisi tubuhnya. Ia berharap para pendatang baru lebih baik mengisolasi diri selama 14 hari.

"Kalau 14 hari tidak ada keluhan ya tidak usah kawatir," kata dia.

Sementara itu, Camat Saptosari, Jarot Hadiatmojo mengatakan sejak Kamis malam kemarin jumlah pemudik yang datang ke Saptosari cukup banyak mencapai 332. Namun begitu, dirinya belum bisa menyebutkan jumlah pasti lantaran saat ini masih terus di data.

Di wilayah Saptosari sendiri sejumlah desa telah membuat pos-pos untuk menyambut tamu ataupun pemudik dari luar daerah. Mereka kemudian disemprot dan diperiksa suhu tubuhnya sebelum mereka memasuki wilayah tinggal mereka.

"Sejumlah kebijakan juga disepakati, mereka harus isolasi diri mereka di rumah selama 14 hari," katanya.
Pewarta :
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar