Pemkot Yogyakarta: tidak ada wilayah lakukan "lockdown"

id Yogyakarta,lockdown,corona

Pemkot Yogyakarta: tidak ada wilayah lakukan "lockdown"

Suasana kawasan Malioboro yang terlihat lengang sejak merebaknya virus corona (Eka AR)

Yogyakarta (ANTARA) - Pemerintah Kota Yogyakarta menyebutkan hingga saat ini tidak ada kampung atau wilayah di kota tersebut yang melakukan “lockdown” secara mandiri sebagai upaya mengantisipasi meluasnya penyebaran virus corona.



“Di Kota Yogyakarta tidak ada kampung yang menutup diri. Yang dilakukan selama ini adalah mengaktifkan monitoring dan secara persuasif meminta warga melakukan pemeriksaan serta isolasi mandiri 14 hari,” kata Wakil Wali Kota Yogyakarta Heroe Poerwadi di Yogyakarta, Sabtu.



Menurut dia, seluruh RT dan RW serta lurah sudah diminta aktif melakukan pemantauan terhadap warga termasuk warga yang baru tiba di Yogyakarta dari luar daerah atau dari perantauan.



“Jika sebelumnya kami hanya berharap agar warga yang baru datang di Yogyakarta berinisiatif untuk periksa dan mengisolasi diri, maka sekarang seluruh RT/RW dan lurah harus aktif melakukan pemantauan,” katanya.



Sepanjang Maret, Heroe yang juga menjadi Ketua Tim Gugus Tugas Penanganan COVID-19 di Kota Yogyakarta mengatakan sudah ada sekitar 9.000 warga yang diperiksa di puskesmas karena memiliki keluhan atau memiliki riwayat perjalanan dari luar kota atau luar negeri.



“Banyaknya warga yang melakukan pemeriksaan di fasilitas layanan kesehatan juga menunjukkan bahwa sudah ada kesadaran bersama dari masyarakat untuk menghadapi virus corona,” katanya.



Hingga saat ini, sudah ada tiga warga Kota Yogyakarta yang dinyatakan positif terjangkit COVID-19. Satu di antaranya sudah dinyatakan sembuh dan satu lainnya sedang menunggu hasil uji laboratorium terakhir.



Jumlah pasien dalam pengawasan (PDP) tercatat sebanyak sembilan orang dan orang dalam pemantauan (ODP) sebanyak 267 orang. Seluruh ODP memiliki riwayat perjalanan dari daerah kasus dan belum ditemukan ODP yang kemudian ditetapkan sebagai PDP.



Sedangkan di DIY, hingga Sabtu (28/3) pukul 16.00 WIB terdapat 154 pasien dalam pengawasan yang sudah diperiksa dengan swab dan 40 orang dinyatakan negatif, 19 positif (satu sembuh, dan tiga meninggal dunia), serta 95 orang masih dalam proses pemeriksaan laboratorium dengan empat di antaranya meninggal dunia.



Saat ini, Pemerintah DIY juga telah menerima 6.000 alat rapid test dan mendapat tambahan 14.000 test kit rapid test dari pemerintah pusat. Rapid test tersebut akan diprioritaskan untuk tenaga kesehatan yang merawat pasien dalam pengawasan, serta kerabat dan warga yang secara intensif melakukan kontak dengan PDP.



Begitu pula untuk kebutuhan alat pelindung diri (APD) ada tambahan 4.000 alat setelah sebelumnya memperoleh bantuan 1.000 alat pelindung diri. APD tersebut akan dibandigkan ke rumah sakit rujukan sesuai dengan kebutuhan dan prioritas yang diidentifikasi oleh Dinas Kesehatan DIY.



Meskipun mendapat bantuan APD, namun ada beberapa jenis sarana medis yang persediaannya kian menipis di antaranya masker N95, dan sarung tangan pajang.

Pewarta :
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar