Sejumlah PO menghentikan operasional dari Terminal Giwangan Yogyakarta

id Bus,terminal giwangan,hentikan operasional

Sejumlah PO menghentikan operasional dari Terminal Giwangan Yogyakarta

Ilustrasi suasana jalur kedatangan di Terminal Giwangan Yogyakarta (Antara/Eka AR)

Yogyakarta (ANTARA) - Sejumlah perusahaan otobus memilih menghentikan kegiatan operasional melayani penumpang dari dan ke Terminal Giwangan Yogyakarta karena jumlah penumpang yang mengakses layanan transportasi darat mengalami penurunan sangat signifikan.

“Dari catatan kami, setidaknya ada empat perusahaan otobus yang menghentikan layanan. Ada yang menyampaikan surat resmi tetapi ada juga yang tiba-tiba menghentikan layanan mereka karena tidak ada satu pun yang masuk ke terminal,” kata Kepala Satuan Pelayanan Terminal Giwangan Yogyakarta Bekti Zunanta di Yogyakarta, Rabu.

Sejumlah perusahaan otobus yang memilih menghentikan layanan di antaranya Citra Adi Lancar yang menyatakan akan menghentikan layanan hingga 6 April, begitu pula dengan PO Ramayana, Nusantara, dan Haryanto juga memilih menghentikan layanan sementara.

Penghentian layanan oleh sejumlah perusahaan otobus tersebut, lanjut Bekti, merupakan dampak dari meluasnya wabah COVID-19 sehingga masyarakat diminta untuk tidak banyak melakukan kegiatan di luar rumah, terlebih bepergian ke luar daerah.

“Kondisi di Terminal Giwangan pun sudah sangat sepi. Ada penurunan sekitar 50 persen baik untuk keberangkatan maupun kedatangan,” katanya.

Sejak Selasa malam, 31 Maret hingga Rabu (1/4), lanjut Bekti, hanya ada dua bus malam yang masuk ke Terminal Giwangan dengan membawa satu penumpang.

“Kami yang biasanya memberangkatkan sekitar 70 armada bus tujuan Jakarta setiap hari, kemarin hanya ada satu bus yang berangkat. Itu pun hanya dengan tiga penumpang. Mereka diberangkatkan ke Purworejo untuk bergabung dengan penumpang lain,” katanya.

Sedangkan sejumlah PO yang masih memberikan layanan di antaranya PO Efisiensi tujuan Cilacap dan Purwokerto namun dengan jumlah armada yang terbatas, hanya ada dua armada tujuan Purwokerto dan satu armada tujuan Cilacap. “Biasanya, ada sekitar 60 bus yang diberangkatkan dari Giwangan setiap hari,” katanya.

Sedangkan untuk tujuan ke Jawa Timur, lanjut Bekti, juga mengalami kondisi serupa.

“Biasanya setiap lima menit sekali kami memberangkatkan bus ke arah Surabaya. Tetapi, kemarin sudah menunggu hampir empat jam hanya ada dua penumpang,” katanya.

Bus pun tidak diberangkatkan karena dinilai tidak mampu menutup biaya operasional yang harus dikeluarkan seperti membeli bahan bakar atau membayar tol. “Sekarang, banyak bus tujuan Surabaya yang hanya parkir di terminal karena memang penumpangnya tidak ada,” katanya.

Meskipun terjadi penurunan yang signifikan untuk jumlah penumpang di Terminal Giwangan dengan armada bus reguler, namun Bekti menyebut, dimungkinkan ada kelompok masyarakat dari Jakarta dan sekitarnya yang memanfaatkan armada bus dengan sistem sewa untuk pulang ke kampung halaman.

“Jadi, bus tersebut tidak masuk ke terminal melainkan langsung ke tempat tujuan. Ini yang tidak bisa kami catat,” katanya.

Sedangkan untuk program mudik gratis dengan tujuan Terminal Giwangan, lanjut Bekti, sudah dibatalkan oleh Kementerian Perhubungan maupun dari Jasa Rahardja. “Sudah ada pernyataan dibatalkan, tetapi kami menunggu surat resminya,” katanya.

Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar