Pemkab Gunung Kidul pastikan warga Playen meninggal dunia bukan PDP

id COVID-19,PDP,Gunung Kidul,Kecamatan Playen,DIY,cucu dari Depok,Kepala Dinkes,dr Dewi Irawaty

Pemkab Gunung Kidul pastikan warga Playen meninggal dunia bukan PDP

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dr Dewi Irawaty, M.Kes. (FOTO ANTARA/Sutarmi)

Gunung Kidul, Yogyakarta (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, memastikan seorang warga Kecamatan Playen yang meninggal dunia setelah dikunjungi cucunya dari Depok, Jawa Barat, belum masuk pasien dalam pengawasan (PDP) COVID-19.

Kepala Dinas Kesehatan Gunung Kidul dr Dewi Irawaty, M.Kes di Gunung Kidul, Jumat mengatakan bahwa hingga saat ini, jumlah PDP di wilayah itu yang meninggal dua orang, yakni dari Kecamatan Karangmojo, dan Wonosari.

"Untuk warga di Kecamatan Playen, hingga saat ini yang meninggal belum masuk PDP. Meski yang bersangkutan kontak dengan cucunya dari Depok, Jawa Barat, sekitar dua pekan yang lalu," kata Dewi.

Seperti diketahui, Depok, Jawa Barat, merupakan zona merah pandemi COVID-19.

Ia mengatakan warga yang meninggal tersebut tidak ada keluhan, hanya saja yang bersangkutan memiliki riwayat penyakit asma dan asam urat.

Meski demikian, untuk wilayah RT dan dusun yang bersangkutan tetap disemprot disinfektan untuk mengantisipasi adanya penyebaran COVID-19.

Sementara terkait informasi yang beredar di masyarakat adanya korban positif yang meninggal di Kecamatan Panggang, ia menjelaskan bahwa pasien itu dirawat di salah satu rumah sakit swasta, dan dirujuk ke Rumah Sakit Umum Pusat dr Sardjito Yogyakarta.

"Memang dia lebih condong penyakit lain yakni penyakit jantung, dan tidak dimasukkan ke PDP," kata Dewi Irawaty.

Sementara itu, Wakil Bupati Gunung Kidul Immawan Wahyudi mengakui menerima laporan terkait ada salah satu warga yang meninggal dunia, dan warga takut karena belum lama dikunjungi cucunya dari wilayah Depok, Jawa Barat, di Kecamatan Playen.

Akibatnya, kata dia, keluarga dan masyarakat tidak ada yang berani mendekat ke jenazah.

Pada saat itu, pemkab mengambil tindakan dengan mendatangi lokasi bersama petugas pemulasaran jenasah yang sudah terlatih. Menggunakan APD lengkap petugas terlatih langsung mengevakuasi jenasah untuk dikuburkan sesuai dengan penanganan jenazah COVID-19.

"Kami mengambil keputusan ketika keluarga tidak berani mendekat, hanya satu orang cucu saja," katanya.

Ia mengakui suasana ketidakpastian ini tidak hanya terjadi di Gunung Kidul tetapi juga di seluruh Indonesia. Mereka yang meninggal dan pernah berinteraksi dengan warga di zona merah COVID-19 akan mengambil jarak dengan jenazah.

"Yang di Playen itu belum tentu COVID-19," demikian Immawan Wahyudi .
Pewarta :
Editor: Eka Arifa
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar