Pemkab Gunung Kidul mendorong peternak kembangkan pakan alternatif

id Pakan ternak alternatif,Gunung Kidul

Pemkab Gunung Kidul mendorong peternak kembangkan pakan alternatif

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (ketiga kanan) bersama Wakil Wali Kota Bogor Dedie A Rachim (ketiga kiri) dan Direktur Utama PT Biocycle Indo Budi Tanaka (kedua kiri) melihat pakan untuk larva kering saat pelepasan ekspor perdana komoditas larva kering ke negara Inggris di Rumah Potong Hewan (RPH) Bubulak, Kota Bogor, Jawa Barat (3/3/2020). Komoditas larva kering untuk pakan ternak protein tinggi tersebut di ekspor perdana ke negara Inggris sebanyak tiga kontainer atau 22,5 ton. ANTARA FOTO/Arif Firmansyah/aww.

Gunung Kidul (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, mendorong peternak mengembangkan pakan ternak alternatif dalam rangka mendukung swasembada ternak di wilayah tersebut.

Kepala Bidang Penelitian Pengembangan dan Pengendalian, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Gunung Kidul Rismiyadi di Gunung Kidul, Senin, mengatakan pemkab sejak akhir 2018 telah mengeluarkan Surat Edaran Bupati Nomor 524/5814 tentang Pengembangan Pakan Alternatif Mandiri untuk Mendukung Budi Daya Peternakan.

Sedangkan pada akhir 2019, upaya pengembangan pakan alternatif itu diperkuat pula melalui Surat Edaran Bupati Nomor 520/6986 tentang Stasiun Pakan Isi Ulang Silase Mendukung Ketahanan Pakan Ternak di Gunung Kidul.


"Harapannya di setiap desa bisa membuat kelompok untuk memproduksi pakan ternak alternatif secara mandiri. Ini yang terus kami sosialisasikan ke masyarakat,” kata Rismiyadi.

Ia mengatakan selama ini masyarakat masih menggunakan pakan alami untuk konsumsi ternak. Pola tersebut harus diubah karena pakan yang diberikan tidak optimal untuk budi daya peternakan.

"Memang bagus, tapi harus ada inovasi sehingga ternak-ternak yang dimiliki dapat tumbuh dengan baik,” katanya.


Menurut dia, peternak dapat memaksimalkan potensi, bahan baku pakan harus melalui sentuhan inovasi sehingga pakan yang diberikan tidak hanya sebatas dedaunan segar, jerami ataupun lainnya. Optimalisasi budi daya peternakan bisa dilakukan dengan pemanfaatan pakan alternatif yang melalui proses fermentasi.

Bahan baku, tetap menggunakan dedaunan ataupun sisa hasil dari panen pertanian seperti jerami, batang pohon jagung hingga kacang tanah.

Luas wilayah Gunung Kidul sangat mendukung upaya pengembangan peternakan. Lahan yang luas, ketersediaan pakan bisa terpenuhi.

"Dengan fermentasi, selain pakan bisa lebih awet, dan kandungan gizi yang dimiliki lebih tinggi sehingga cocok untuk pakan ternak,” kata Rismiyadi.

Sementara itu, Ketua Darwis Ayo Angon Desa Ngalang, Kecamatan Gedangsari, Doni Fitrianta mengatakan, kelompoknya mengembangkan pakan ramah lingkungan yang berbahan baku dari dedaunan, biji kopra, kulit kopi, biji sawit untuk konsentrat pakan ternak.

"Kami tidak sendiri karena ada pendampingan dari UGM,” katanya.
 
Pewarta :
Editor: Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar