Deru UGM produksi pelindung wajah untuk tenaga medis

id pelindung wajah,face shield,UGM,yogyakarta

Deru UGM produksi pelindung wajah untuk tenaga medis

Pelindung wajah atau face shield yang diproduksi Tim dari Disaster Response Unit (Deru) Universitas Gadjah Mada (UGM). ANTARA/HO-Humas UGM

Selain Deru UGM, proses produksi dan distribusi juga melibatkan tim KKN UGM, gelanggang bergerak, FKKMK UGM, serta Fakultas Teknik UGM.
Yogyakarta (ANTARA) - Tim dari Disaster Response Unit (Deru) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta memproduksi pelindung wajah atau face shield secara mandiri untuk memenuhi kebutuhan alat pelindung diri (APD), khususnya bagi tenaga medis.

Selain Deru UGM, proses produksi dan distribusi juga melibatkan tim KKN UGM, gelanggang bergerak, FKKMK UGM, serta Fakultas Teknik UGM.

Kepala Seksi Logistik dan Operasional KKN DPkM UGM Amin Susiatmojo dalam keterangannya di Yogyakarta, Rabu, menjelaskan produksi face shield ini diinisiasi untuk membantu memenuhi kebutuhan dari tenaga medis di sekitar Kampus UGM.

"Sejauh ini hasil produksi kami sudah didistribusikan ke beberapa lokasi. Hal itu seperti relawan karyawan dan mahasiswa UGM, warga desa sekitar UGM, beberapa pasar sekitar UGM, RS Bhayangkara Kalasan, TRC BPBD Kota Yogyakarta, Puskesmas Pakem, Puskesmas Ponjong II, RS Nokmah, serta Puskesmas Piyungan," kata dia.

Baca juga: UGM bantu biaya pulsa dan data internet mahasiswa

Produksi mandiri face shield yang dimulai sejak Kamis (2/4) dilakukan di Ruang sidang Utama Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat UGM.

Menurut dia, produksi face shield dilakukan dengan menggunakan 12 unit alat 3D Printer dengan bahan dasar mika.

Dosen Teknik Mesin UGM Herianto selaku supervisor produksi ini mengatakan sebenarnya UGM memiliki unit tersendiri untuk memproduksi 3D Printer.

Namun, karena kebutuhan mendesak, Herianto akhirnya mencarikan mesin yang tinggal rakit dari Jakarta. Meski demikian, ia menyebut bahwa mesin ini tetap memakai desain dari unitnya sehingga tetap memiliki identitas UGM.

Baca juga: Pakar transportasi UGM minta pemerintah tegas melarang mudik

Proses produksi dilakukan selama enam jam per hari dengan pembagian dua shift, yakni dari pukul 09.00-12.00 WIB dan pukul 12.00-15.00 WIB. Setiap unit 3D Printer dapat memproduksi satu face shield tiap satu jamnya, jadi dengan alat yang ada saat ini total produksi mencapai 12 buah face shield per jam.

Lebih lanjut, Herianto yang juga merupakan Koordinator Asosiasi 3D Printing Cabang DIY, menyatakan para pegiat 3D Printing di Indonesia saat ini tengah bergerak bersama di seluruh Indonesia untuk membantu memenuhi kebutuhan tenaga medis untuk melawan pandemi COVID-19 ini.

"Saya bersama beberapa rekan-rekan relawan, baik dari UGM maupun asosiasi, juga telah bergerak sendiri selama 2-3 minggu ini. Saat ini fokus produksinya memang hanya face shield, tetapi jika kebutuhannya sudah terpenuhi , kami akan mulai produksi barang lainnya. Intinya hingga pandemi ini teratasi, kami akan memproduksi apapun untuk membantu mengatasinya," kata dia.


 
Pewarta :
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar