ACT DIY distribusikan satu ton beras untuk masyarakat prasejahtera

id ACt

ACT DIY distribusikan satu ton beras untuk masyarakat prasejahtera

Lembaga kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT) DIY menyelenggarakan Operasi Beras Gratis. (ANTARA/HO/ACT)

Yogyakarta (ANTARA) - Lembaga kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT) DIY menyelenggarakan Operasi Beras Gratis dengan mendistribusikan sebanyak satu ton beras kepada masyarakat prasejahtera di beberapa titik di DIY, Rabu.

Sebanyak satu ton beras yang dikemas per lima kilogram, didistribusikan dua lokasi di Desa Grogol, Kecamatan Paliyan, Gunungkidul dan Desa Hargobinangun, Kecamatan Pakem, Sleman. 

"Bantuan Beras ini merupakan wujud kepedulian kita bersama untuk meringankan beban masyarakat prasejahtera yang tengah mengalami kesulitan ekonomi disituasi sulit saat ini," kata Kepala Cabang ACT DIY, Bagus Suryanto.

Melaui pemberian layanan beras gratis tersebut, ACT DIY menjangkau 200 KK dan 1.660 jiwa masyarakat prasejahtera dengan berbagai profesi seperti petani, buruh, pedagang, tukang becak, pekerja harian, lansia serta, tukang ojek online yang beberapa pekan terakhir mengalami penurunan penghasilan akibat merebaknya wabah Covid-19.

Menurut Bagus, program Oparasi Beras Gratis ini merupakan bentuk respon dari ACT sebagai lembaga kemanusiaan untuk menjamin ketersediaan pangan bagi masyarakat yang tengah mengalami surutnya penghasilan. 

Bagus menambahkan bahwa, adanya virus Covid-19 ini harus kita jadikan momentum untuk saling tolong-menolong, banyak para buruh, pekerja harian, pedagang, maupun tukang ojol, kehilangan penghasilan, padahal dirumah ada keluarga yang harus dipenuhi kebutuhan pokoknya. 

Menurut penuturan Winarno (31), salah satu warga Desa Grogol yang menerima bantuan beras tersebut mengatakan, di Gunungkidul sendiri selain karena dampak tidak langsung dari pandemi Corona, sebagian warga Gunungkidul adalah perantau yang bekerja sebagai buruh di Jakarta sehingga di fase lockdown ini sebagian mengabari tidak bisa mengirimkan uang bulanan ke keluarganya di kampung.

Winarno menambahkan, selain menjadi buruh, sebagian besar masyarakat Gunungkidul bermata pencaharian sebagai petani, namun saat ini sawah-sawah milik warga tengah mengalami gagal panen akibat hama, sehingga padi-padi yang dipanen tidak berisi (gabug). 

"Akibatnya banyak petani terutama yang berasal dari keluarga prasejahtera ini merugi," kata Winarno.

Tidak jauh berbeda, kondisi serupa juga tengah dirasakan masyarakat di Kabupaten Sleman, salah satunya Bejo (54) masyarakat di Kaliurang yang merasakan langsung dampak ekonomi dari wabah Covid-19 ini. “Hampir semua sendi perekonomian masyarakat yang mengandalkan wisata harus lumpuh karena Kaliurang saat ini sangat sepi pengunjung,” ungkap Bejo.

Sementara itu Hantarti (56) yang kesehariannya sebagai pedagang di sekolah sudah tidak bisa beraktifitas karena sekolah tempat ia berjualan telah diliburkan karena dampak pandemi Corona ini. Padahal ia merupakan janda yang berasal dari keluarga prasejahtera yang mengandalkan jualan keseharian di sekitar sekolah. "Terima kasih atas bantuan berasnya, allhamdulillah bantuan ini sangat meringankan beban kami saat ini," ucapnya, saat para relawan memberikan bantuan beras untuk Hantarti di rumahnya. 
















 
Pewarta :
Editor: Luqman Hakim
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar