Gelombang tinggi menyebabkan tumpukan sampah di Pantai Trisik Kulon Progo

id Pantai Trisik,Gelombang tinggi,Kulon Progo

Gelombang tinggi menyebabkan tumpukan sampah di Pantai Trisik Kulon Progo

Gelombang tinggi di Sambudra Hindia menyebabkan tumpukan sampah di kawasan Pantai Trisik Kabupaten Kulon Progo. (Foto ANTARA/Sutarmi)

Kulon Progo (ANTARA) - Gelombang laut tinggi  di atas empat meter menerjang Pantai Trisik di Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, yang menyebabkan kerusakan laguna hingga menyebabkan tumpukan sampah.

Koordinator Satlinmas Rescue Istimewa (SRI) Wilayah V Kulonprogo, Pantai Trisik, Jaka Samudra di Kulon Progo, Rabu, mengatakan kerusakan akibat gelombang, yakni laguna, jembatan bambu laguna, belasan lapak pedagang dan sarana prasarana wisata di Pantai Trisik.

"Gelombang besar telah menghantam kawasan Pantai Trisik dari Selasa (26/5) dan diprediksi puncaknya Kamis (28/5) dengan tinggi gelombang sekitar lima meter," kata Jaka Samudra.

Ia memperkirakan kerugian dampak gelombang tinggi yang menerjang di kawasan Pantai Trisik sekitar Rp200 juta. Kerugian bisa bertambah karena gelombang baru akan reda beberapa hari ke depan.

Saat ini, sebuah kolam renang dan beberapa warung yang dikelola warga sekitar juga diterjang gelombang tinggi. Kolam renang rusak dan dipenuhi air laut. Sementara sejumlah peralatan yang disimpan di dalam lapak-lapak semi permanen, hanyut terbawa arus.

Besarnya ombak itu, hempasan air bahkan sampai ke lapangan Trisik, yang jaraknya berkisar 30 meter dari bibir pantai. Sehingga menyebabkan kerusakan terhadap lapak dan sarpras wisata, semoga hal ini bisa mendapat perhatian pemerintah.

"Untuk total kerugiannya, sekitar Rp200 juta," katanya.

Sementara itu, salah satu warga di sekitar Pantai Trisik Taufik Mulyono mengatakan gelombang tinggi atau besar merupakan fenomena alam yang terjadi setiap tahun. Sehingga bagi masyarakat pesisir, sepertinya, tidak terlalu khawatir. Namun meski begitu, warga tetap meningkatkan kewaspadaan guna mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.

"Sebenarnya ini hal yang biasa, cuma memang untuk kali ini ombak cukup besar, sehingga buat antisipasi kami akan jaga-jaga di bibir pantai," katanya.

Ia juga mengakui nelayan sejak adanya COVID-19 tidak melaut karena hasil tangkapan sulit dipasarkan.

"Kami beralih ke budi daya udang. Tapi budi daya udang juga terkendala pemasaran," katanya.
Pewarta :
Editor: Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar