Pedagang pasar tradisional di Yogyakarta antusias ikuti rapid test acak

id rapid test acak,pedagang,pasar tradisional, yogyakarta

Pedagang pasar tradisional di Yogyakarta antusias ikuti rapid test acak

Pelaksanaan rapid test acak untuk pedagang pasar tradisional di Kota Yogyakarta. ANTARA/ Eka AR

Yogyakarta (ANTARA) - Pedagang pasar tradisional di Kota Yogyakarta dinilai cukup antusias mengikuti kegiatan rapid test acak yang digelar selama dua hari, 3-4 Juni 2020 sebagai bagian dari sampling untuk mengetahui sebaran potensi kasus COVID-19 di kota tersebut.



“Pedagang cukup antusias, bahkan berkeinginan agar jumlah pedagang yang mengikuti rapid test acak bisa diperbanyak,” kata Ketua Harian Gugus Tugas Penanganan COVID-19 Yogyakarta Heroe Poerwadi usai melihat secara langsung pelaksanaan rapid test acak di Pasar Beringharjo Yogyakarta, Kamis.



Menurut dia, jumlah pedagang yang ditetapkan sebagai sampel untuk rapid test acak tersebut sudah dihitung berdasar metode survei sehingga tidak ada penambahan jumlah pedagang. Rapid test acak tersebut digelar oleh Pemeirntah Kota Yogyakarta bekerja sama dengan Universitas Gadjah Mada (UGM).



“Perlu diingat bahwa rapid test acak di pasar tradisional yang kami lakukan ini bukan bertujuan untuk tracing melainkan survei. Sehingga ada metodologi survei yang harus dipenuhi, termasuk jumlah pasar, sebaran pasar, dan jumlah sampel,” katanya.



Selama dua hari pelaksanaan rapid test, 3-4 Juni, dilakukan terhadap 250 orang pedagang di 10 pasar tradisional yang mewakili sebaranl lokasi pasar di seluruh wilayah Kota Yogyakarta, baik di bagian timur, barat, utara, selatan, dan tengah.



“Rapid test pun hanya dilakukan satu kali saja. Jika ditemukan hasil rapid test yang reaktif, maka pedagang akan menjalani swab,” katanya.



Jika swab menunjukkan hasil positif terinfeksi COVID-19, maka baru akan dilakukan proses tracing kepada kontak terdekat dari pedagang yang bersangkutan.



“Sebelumnya, kami juga melakukan tracing terhadap pedagang di Pasar Kranggan. Ada 39 pedagang yang ditracing usai ditemukannya kasus positif pedagang ikan di Kabupaten Gunung Kidul,” katanya.



Dari proses tracing menggunakan rapid test, diketahui satu pedagang di Pasar Kranggan menunjukkan hasil reaktif dan karena pedagang tersebut warga Kabupaten Sleman, maka langsung ditangani oleh kabupaten tersebut.



“Di Kota Yogyakarta, pedagang atau suplier ikan yang berasal dari Gunung Kidul tersebut hanya datang ke Pasar Kranggan saja,” katanya.



Guna memastikan agar kondisi pasar tradisional aman dari potensi penularan virus corona, maka dibuat berbagai aturan yang harus dipatuhi bersama baik oleh pedagang maupun konsumen.



Aturan tersebut adalah menggunakan masker, cuci tangan dan menjaga jarak aman. “Untuk jaga jarak ini, akan dibuat semacam alur atau garis pembatas supaya pembeli tidak saling berpapasan sehingga potensi kerumuman bisa dikurangi,” katanya.



Setelah dari pasar tradisional, kegiatan rapid test acak akan dilanjutkan ke pusat perbelanjaan dan mall.



“Kami sudah berkomunikasi dengan manajemen mall. Mereka pun menyatakan kesanggupannya. Namun, kami belum berhitung mengenai lokasi sasaran dan jumlah sampelnya,” kata Heroe.



Sasaran utamanya adalah pada tenant dan karyawan di pusat perbelanjaan.



Sementara itu, salah satu pedagang di Pasar Beringharjo yang mengikuti rapid test acak, Wasiyati mengatakan tidak merasa takut atau khawatir.



“Saya tidak was-was atau takut nanti hasilnya akan seperti apa. Sejauh ini pun, saya dalam kondisi yang selalu sehat dan menaati aturan, seperti menggunakan masker,” kata pedagang sayur asal Godean Sleman.



Wasiyati mengatakan, selain dia, masih ada beberapa pedagang sayur lain yang berjualan di zona yang sama juga mengikuti rapid test acak.

Pewarta :
Editor: Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar