Ketua IDI DIY: Adaptasi kebiasaan baru lebih mudah dipahami masyarakat

id IDI,Adaptasi kenormalan baru,New normal,Normal baru,Istilah,Protokol kesehatan

Ketua IDI DIY: Adaptasi kebiasaan baru lebih mudah dipahami masyarakat

Logo Ikatan Dokter Indonesia (IDI). ANTARA/dokumen

Yogyakarta (ANTARA) - Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Daerah Istimewa Yogyakarta dr Joko Murdiyanto mengatakan istilah "adaptasi kebiasaan baru" lebih mudah dipahami masyarakat dibandingkan "new normal" atau kenormalan baru sehingga penerapkan protokol kesehatan tetap dipatuhi.

"Menurut saya lebih tepat dengan istilah 'adaptasi kebiasaan baru' karena kebiasaan kita baru semua mulai dari cuci tangan, pakai masker, dan jaga jarak," kata Joko saat dihubungi di Yogyakarta, Kamis.

Joko mengatakan istilah normal baru tidak jarang disalahpahami sebagian masyarakat. Banyak yang menganggap normal baru sebagai situasi yang sudah normal sepenuhnya tanpa perlu disertai pembiasaan menerapkan protokol kesehatan.

Dalam situasi pandemi COVID-19 seperti saat ini, menurut Joko, kampanye yang digencarkan perlu memerhatikan istilah yang tepat serta mudah diterima seluruh lapisan masyarakat.

"Ya bagi orang yang mengerti enggak masalah. Tetapi bagi masyarakat yang tidak paham barangkali 'new normal' pemahamannya ya sudah kembali ke normal," kata dia.

Kendati memiliki semangat untuk menggairahkan kembali perekonomian nasional, menurut dia, jaminan penerapan protokol kesehatan harus menjadi fokus utama untuk menekan kasus penularan COVID-19 yang masih berpotensi terjadi.

Bahkan, lanjut Joko, pendekatan hukum memungkinkan digunakan untuk memastikan kepatuhan masyarakat mencegah penularan.

"Kampanye protokol kesehatan harus ketat dan disiplin dan ada pendekatan hukum. Misalnya kalau tidak pakai masker denda karena membiasakan masyarakat memakai masker tidak gampang," kata dia.

Sementara itu, kata dia, untuk menerapkan normal baru setidaknya ada enam aspek yang harus dipenuhi yakni pertama, transmisi sudah terkendali, kedua, kesiapan rumah sakit, ketiga, risiko penularan terkendali, keempat, telah melakukan upaya pencegahan penularan dengan disiplin, kelima, mencegah munculnya kasus import.

"Keenam partisipasi masyarakat harus betul-betul dilibatkan karena sudah menjadi perubahan pola hidup yang luar biasa," kata dia.

Selain itu, ia menambahkan, dari aspek epidemiologi, ada syarat yang harus dipenuhi sebelum normal baru diterapkan, salah satunya ada penurunan kasus selama dua minggu dengan persentase kurang dari 50 persen.
Pewarta :
Editor: Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar