Petrokimia Gresik: Penurunan harga gas bumi tingkatkan efisiensi

id petrokimia gresik,gas bumi

Petrokimia Gresik: Penurunan harga gas bumi tingkatkan efisiensi

Aktivitas penataan stok pupuk bersubsidi di Gudang Multiguna Petrokimia Gresik (HO-Humas PG)

Yogyakarta (ANTARA) - Direktur Utama Petrokimia Gresik Rahmad Pribadi mengatakan penurunan harga gas bumi akan meningkatkan efisiensi perusahaan dalam menghadapi persaingan global.

"Penurunan harga gas bumi juga akan berdampak pada sektor pertanian dan ketahanan pangan nasional, karena gas bumi merupakan bahan baku utama untuk memproduksi pupuk bersubsidi jenis Urea, ZA, dan NPK," katanya dalam siaran pers, di Yogyakarta, Sabtu.

Ia mengemukakan porsi gas bumi untuk produksi pupuk Urea mencapai 70 persen. Sementara harga gas bumi yang selama ini diperoleh Petrokimia Gresik dari sejumlah pemasok cukup tinggi, rata-rata pada angka 7,45 dolar AS per MMBTU (Million British Thermal Units).

Menurut dia, harga 7,45 dolar AS per MMBTU ini cukup tinggi jika dibandingkan dengan pabrik pupuk lainnya di Indonesia. Dengan adanya beleid baru dari Kementerian ESDM, Petrokimia Gresik akan menerima harga gas bumi pada kisaran 6 dolar AS per MMBTU.

"Petrokimia Gresik memproyeksikan efisiensi biaya produksi pupuk Urea, ZA, dan NPK akan mencapai Rp743,97 miliar per tahun, yang juga berdampak pada penurunan biaya subsidi pupuk yang harus dibayarkan pemerintah," katanya.

Oleh karena itu, Petrokimia Gresik sebagai perusahaan Solusi Agroindustri anggota holding Pupuk Indonesia menyambut positif kebijakan penyesuaian harga gas bumi oleh pemerintah.

Penyesuaian harga gas bumi itu diatur dalam Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) No. 89K/10/MEM/2020 tanggal 13 April 2020 tentang Pengguna dan Harga Gas Bumi Tertentu di Bidang Industri.

Ada tujuh sektor yang mendapat penyesuaian harga, salah satunya industri pupuk, di mana harga pada titik serah pengguna (plant gate) ditetapkan pada kisaran harga 6 dolar AS per MMBTU.

"Kami mengapresiasi kebijakan Kementerian ESDM tersebut," kata Rahmad.

Saat ini Petrokimia Gresik memiliki 31 pabrik (pupuk dan non-pupuk) dengan kapasitas total 8,9 juta ton per tahun. Pabrik yang menggunakan gas bumi sebagai bahan baku sebanyak 15 unit.

Lima belas pabrik itu terdiri atas dua pabrik amoniak (bahan baku Urea) kapasitas produksi 1,1 juta ton per tahun, dua pabrik Urea kapasitas 1 juta ton per tahun, tiga pabrik ZA kapasitas 750 ribu ton per tahun, dan delapan unit pabrik NPK kapasitas 2,7 juta ton.

Ia mengatakan penurunan harga gas bumi tidak hanya berdampak pada peningkatan daya saing perusahaan saja, melainkan dapat dirasakan juga oleh pemerintah melalui efisiensi subsidi.

"Pemerintah akan mendapatkan manfaat berupa penghematan anggaran subsidi dalam APBN, atau dapat meningkatkan volume produksi pupuk bersubsidi, atau bisa juga dengan menyesuaikan harga eceran tertinggi (HET) yang terjangkau untuk petani," katanya.

Dengan demikian, kata dia, selain pemerintah, petani secara tidak langsung juga dapat menikmati atau mendapat "multiplier effect" dari kebijakan penurunan harga gas bumi. Petrokimia Gresik juga bisa memanfaatkan efisiensi yang ada untuk meningkatkan kualitas produk.

"Selain mendapat manfaat harga yang lebih terjangkau, petani juga bisa menikmati peningkatan kualitas produk dan tentunya juga pelayanan dari Petrokimia Gresik," kata Rahmad.

Dengan adanya kebijakan penurunan harga gas bumi, Petrokimia Gresik berharap dapat mewujudkan sasaran program transformasi bisnis, yaitu mendukung program ketahanan pangan nasional, sekaligus menjadi "market leader" dan "dominant player" untuk solusi agroindustri.
 
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar