Sebanyak 67 kabupaten/kota miliki angka kematian COVID-19 lebih dari lima orang

id covid-19

Sebanyak 67 kabupaten/kota miliki angka kematian COVID-19 lebih dari lima orang

Tangkapan layar Dr. Dewi Nur Aisyah, anggota Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, dalam diskusi di Graha BNPB, Jakarta, Rabu (8/7/2020) (ANTARA/Prisca Triferna)

Jakarta (ANTARA) - Data Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 per 5 Juli menunjukkan terdapat 67 kabupaten/kota dengan jumlah kematian lebih dari lima orang dengan 284 daerah tidak memiliki angka kematian.

Secara rinci, terdapat 67 kabupaten/kota dengan kematian lebih dari lima orang, 82 kabupaten/kota dengan kematian di antara 2-5 orang, 81 kabupaten dengan kematian satu orang, serta 284 kabupaten/kota tidak ada angka kematian.

"Secara angka bulat paling tinggi misalnya kita lihat di sini di kota Surabaya sekitar 525 per tanggal 5 Juli, yang kedua adalah kota Makassar," kata Dr. Dewi Nur Aisyah, anggota Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, dalam diskusi di Graha BNPB yang dipantau dari Jakarta pada Rabu.

Menurut data Gugus Tugas, sepuluh kabupaten/kota dengan kematian terbanyak, yaitu Surabaya dengan 525 kematian, Makassar 156 kematian, Jakarta Timur 142 kematian, Jakarta Pusat 141 kematian, Jakarta Selatan 135 kematian, Jakarta Barat 124 kematian, Kabupaten Sidoarjo 113 kematian, Banjarmasin 109 kematian, Jakarta Utara 102 kematian dan Semarang 98 kematian.

Sementara itu sepuluh kabupaten kota dengan angka kematian tertinggi per 100.000 penduduk adalah Surabaya, Banjarmasin, Manado, Palangkaraya dan Jakarta Pusat, Makassar, Mataram, Banjarbaru, Kabupaten Sidoarjo, dan Semarang.

Sepuluh kabupaten/kota dengan angka kematian terendah adalah Cianjur, Tasikmalaya, Banyuwangi, Tegal, Pemalang, Serang, Lampung Tengah, Pati, Majalengka dan Pandeglang.

Dalam memasukkan data kematian, Gugus Tugas COVID-19 menggunakan standar WHO yang terkonfirmasi positif dan probable atau mereka yang sudah diperiksa untuk COVID-19 tapi hasilnya inkonklusif atau tidak menunjukkan hasil positif atau negatif.

"Kementerian Kesehatan punya data berapa banyak orang yang probable dan jumlahnya sangat kecil sekali," kata Dewi.
 
Pewarta :
Editor: Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar