Petani bawang Bantul raup untung 100 persen penjualan lelang

id Bawang merah

Petani bawang Bantul raup untung 100 persen penjualan lelang

Panen bawang merah di Nawungan, Desa Selopamioro, Imogiri, Bantul, DIY (Foto ANTARA/Hery Sidik)

Bantul (ANTARA) - Para petani bawang merah di Nawungan, Desa Selopamioro, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, meraup untung hingga 100 persen lebih dari hasil penjualan dengan sistem lelang yang difasilitasi pemerintah daerah setempat pada Jumat.

Kepala Dinas Pertanian Pangan, Kelautan dan Perikanan Bantul Yus Warseno di Bantul, Jumat, mengatakan dalammpenjualan bersama dengan sistem lelang itu,  bawang merah semi organik hasil panen petani dilepas dengan harga tertinggi yaitu sebesar Rp25 ribu per kilogram.

"BEP/break even point (titik impas) dari penjualan bawang merah itu sekitar Rp9 ribu, artinya sudah terjual di atas BEP, bahkan petani bisa meraup untung ratusan persen," kata Yus Warseno dikonfirmasi usai pelaksanaan lelang bawang merah di Nawungan.

Menurut dia, bawang merah yang dijual dengan lelang adalah jenis Bima Brebes. Rencana awal, bawang merah yang dijual  kurang lebih satu ton, akan tetapi karena peminat lelang bertambah maka yang terjual menjadi di atas lima ton.

"Nawungan sebagai sentra bawang merah, komoditasnya punya keuanggulan dibanding dari daerah lain, berkualitas baik karena dipelihara (budi daya) secara semi organik," katanya.

Dia berharap, sistem penjualan lelang bawang merah tersebut dapat menjaga stabilitas harga komoditas hortikultura tersebut di tingkat petani, dan menjaga pola penasaran yang lebih baik, mengingat sistem lelang untuk bawang merah Nawungan baru pertama kali dilaksanakan.

"Baru pertama dilaksanakan lelang untuk membuat pola sistem pemasaran yang baik, tidak sistem 'gambling', karena selama ini sistem 'gambling'. Jadi bisa mengkondisikan sistem pemasaran yang bagus bawang merah, karena ada istilah 'ada harga ada kualitas'," katanya.

Sementara itu, Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Tani Lestari Mulyo Dusun Nawungan Selopamioro Juwari mengatakan terdapat beberapa kendala yang dihadapi para petani, yaitu persoalan bibit bawang merah yang terkadang sulit didapat, juga persoalan pemasaran hasil panen.

"Setelah bibit, yang jadi kendala juga masalah pemasaran, tapi kalau di sini diadakan seperti program Kepala Dinas Pertanian yang mau dipasarkan lelang juga harus sedikit demi sedikit, karena tidak mudah melaksanakan dan menyadarkan petani," katanya.

Menurut dia, panen bawang merah pada musim tanam ini seluas 95 hektare dengan produktivitas panen rata-rata 1,2 ton per seribu meter persegi atau 12 ton per hektare. "Pertanian bawang merah di sini dilaksanakan dengan sistem organik penuh dan semi organik," katanya.
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar