Gunung Kidul mengecek kesiapan pesantren jalankan kebiasaan baru

id pesantren gunung kidul,pembukaan pesantren,kegiatan belajar pesantren

Gunung Kidul mengecek kesiapan pesantren jalankan kebiasaan baru

Arsip Foto. Para santri mengenakan masker saat hendak memasuki ruangan kelas dalam penerapan protokol kesehatan untuk menghindari penularan COVID-19 di pondok pesantren. ANTARA FOTO/Harviyan Perdana Putra/aww.

Gunung Kidul (ANTARA) - Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengecek kesiapan pondok pesantren menjalankan kebiasaan baru dalam kegiatan belajar mengajar guna meminimalkan risiko penularan COVID-19.

Ketua Gugus Tugas Percepatan Penangan COVID-19 Gunung Kidul Immawan Wahyudi di Gunung Kidul, Senin, mengatakan hasil pemantauan menunjukkan pondok-pondok pesantren sudah mulai menerapkan protokol kesehatan untuk mencegah penularan COVID-19.

"Kalau kembali kepada habitat tradisional pesantren sudah baik, baik dalam konteks pelaksanaan protokol kesehatan pada masa pandemik COVID-19 itu menjadi relatif. Kami melihat ponpes yang ada sudah menunjukkan cara-cara mengikuti protokol COVID-19,” kata Immawan di sela peninjauan di Pondok Pesantren Al Hikmah Karangmojo.

Ia mengatakan, santri yang berasal dari zona merah harus menjalani pemeriksaan COVID-19. "Nanti caranya bagaimana, tempatnya di mana, kita pikirkan. Apakah di ponpes, apakah di balai desa, dan yang lain,” katanya.

Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Agama Gunung Kidul Arif Gunadi mengatakan bahwa ada 35 pondok pesantren di Kabupaten Gunung Kidul dan pondok-pondok pesantren tersebut sudah bersiap menerapkan protokol pencegahan COVID-19.

“Sekalipun barangkali belum bisa dikatakan sempurna. Kalau bicara tentang optimisme, masuk ke wilayah ponpes harus sudah siap," katanya.

Pemimpin Pondok Pesantren Al Hikmah Karangmojo Harun Al Rasyid mengatakan bahwa pesantren mengikuti anjuran pemerintah untuk menjalankan protokol pencegahan COVID-19 dalam penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar.

Namun dia berharap pemerintah kabupaten memfasilitasi pemeriksaan menggunakan alat tes diagnostik cepat untuk mendeteksi penularan COVID-19 pada santri yang berasal dari zona merah karena biaya pemeriksaannya cukup tinggi.

"Kami berharap pemkab membantu anggaran rapid test bagi santri dari luar daerah," katanya.
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar