SAR Gunung Kidul mengingatkan wisatawan mewaspadai gelombang tinggi

id gelombang tinggi,Gunung Kidul,SAR Gunung Kidul

SAR Gunung Kidul mengingatkan wisatawan mewaspadai gelombang tinggi

Kondisi gelombang tinggi di sepanjang pantai selatan di Gunung Kidul. (Foto ANTARA/Sutarmi)

Gunung Kidul (ANTARA) - Tim pencarian dan penyelamatan Satuan Perlindungan Masyarakat Wilayah II Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengingatkan kepada nelayan dan wisatawan untuk mewaspadai gelombang tinggi yang menerjang kawasan pantai selatan di wilayah ini.

Koordinator SAR Satlinmas Wilayah II Gunung Kidul Marjono di Gunung Kidul, Kamis, mengatakan pihaknya sudah mendapatkan informasi dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) berkaitan dengan ancaman gelombang tinggi yang menerjang di kawasan pantai selatan dari Kamis (16/7) hingga Sabtu (17/7) dengan ketinggian sekitar lima meter.

"Berdasarkan prakiraan BMKG, puncak gelombang tinggi terjadi pada Sabtu (17/7) dengan ketinggian mencapai enam meter 22 feet, tapi saat menepi arusnya bisa berkurang dan lebih rendah. Adapun ketinggiannya hanya sekitar 5,5 meter,” kata Marjono.

Ia mengatakan ancaman gelombang tinggi sudah disampaikan kepada seluruh masyarakat di kawasan pesisir. Selain itu, informasi juga sudah disebarkan melalui media sosial agar pengunjung lebih berhati-hati saat bermain di kawasan pantai. “Kebetulan puncaknya pada libur akhir pekan. Jadi, mulai sekarang sudah disosialisasikan,” katanya.

Selain terus mensosialisasikan terhadap masyarakat, lanjut Marjono, tim SAR juga berharap agar kenaikan terjadi tidak bersamaan dengan pasang air laut. Saat kenaikan terjadi pada kondisi surut, maka dampaknya bisa dikurangi. “Beda kalau pas bersamaan dengan air pasang, maka gelombang akan lebih besar sehingga potensi kerusakan lebih banyak," katanya.

Sementara itu, Ketua Kelompok Nelayan di Pantai Baron Sumardi mengatakan pihaknya sudah mendapatkan informasi berkaitan dengan adanya potensi kenaikan gelombang air laut.

Ia berharap agar perkiraan kenaikan gelombang meleset, namun para nelayan tetap melakukan antisipasi. Salah satunya dengan upaya menaikan kapal-kapal ke tempat lebih aman. Selain itu, setiap nelayan juga terus melihat perkembangan cuaca melalui gawai yang dimiliki.

"Kami terus memantau informasi pembaharuan data dari BMKG setiap tiga jam sekali. Pembaharuan data itu kami jadikan acuan untuk melaut,” katanya.

Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar