KPAD Yogyakarta menyiapkan buku panduan pola asuh di keluarga

id buku, pola asuh,KPAD Yogyakarta,anak

KPAD Yogyakarta menyiapkan buku panduan pola asuh di keluarga

Pemerintah Kota Yogyakarta menerima penghargaan Sistem Informasi Monitoring Evaluasi dan Pelaporan dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). ANTARA/Eka AR

Yogyakarta (ANTARA) - Komisi Perlindungan Anak Daerah Yogyakarta segera menyusun buku panduan sebagai pedoman pola asuh di keluarga sebagai upaya memastikan pemenuhan hak anak sejak dari lingkungan terkecil mereka yaitu keluarga.



“Buku panduan ini adalah bentuk upaya advokasi kultural kami ke masyarakat untuk pemenuhan hak-hak yang sudah seharusnya diterima anak,” kata Ketua Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Kota Yogyakarta Silvi Dewayani di Yogyakarta, Rabu.



Menurut dia, Pemerintah Kota Yogyakarta melalui Wali Kota Yogyakarta Haryadi Suyuti juga sudah memberikan dorongan kepada KPAD Yogyakarta untuk segera menyusun buku panduan tersebut, apalagi pada saat pandemi seperti saat ini anak lebih banyak menghabiskan waktunya bersama keluarga di rumah.



Dengan menghabiskan lebih banyak waktu di rumah, lanjut dia, justru berpotensi terjadi kenaikan kasus kekerasan dalam rumah tangga, kasus kekerasan anak, perundungan hingga kekerasan psikis. Kondisi tersebut dipicu oleh berbagai aspek di antara faktor psikologis karena tekanan ekonomi, hingga rasa jenuh.



“Buku ini diharapkan sudah bisa direalisasikan tahun ini. Untuk penyusunannya, akan digarap bersama-sama dengan Tim Penggerak PKK dan dari Dinas Pemberdayaan Masyarakat Perempuan dan Perlindungan Anak (DPMPPA) Kota Yogyakarta,” katanya.



Pola pengasuhan yang akan disampaikan melalui buku tersebut, lanjut Silvi adalah membangun hubungan yang erat di antara seluruh anggota keluarga, salah satunya dengan penggunaan kalimat-kalimat bernada positif.



“Saat ini, masih banyak orang yang mungkin tidak sengaja menyematkan label anak nakal. Padahal, hal-hal seperti itu bisa melukai psikis anak dan mempengaruhi tumbuh kembangnya. Orang tua perlu menyadari bahwa penggunaan kalimat yang bernada positif sangat penting dilakukan. Ini salah satu yang akan kami sampaikan,” katanya.



Buku tersebut kemudian akan disampaikan ke masyarakat melalui TP PKK, Dasawisma dan program-program lain. “Tidak hanya dicetak sebagai buku tetapi bisa juga dibuat dalam edisi e-book,” katanya.



Sementara itu, Wali Kota Yogyakarta Haryadi Suyuti mengatakan, KPAD Yogyakarta sebaiknya tidak hanya melakukan penanganan di sektor hilir saja saat sudah terjadi kasus kekerasan terhadap anak, tetapi juga harus dilakukan sejak dari hulu yaitu dari keluarga.



“Tidak hanya melakukan penanganan saat ada kasus kekerasan terhadap anak saja, tetapi juga harus dilakukan antisipasi sejak dari hulu. Sejak dari keluarga. Saya kira, perlu ada pedoman pola asuh dan pembentukan karakter anak sejak dari keluarga,” katanya.



Keberadaan panduan tersebut diharapkan semakin meneguhkan Kota Yogyakarta yang sudah beberapa kali memperoleh penghargaan sebagai Kota Layak Anak.



Pada Rabu (22/7), Pemerintah Kota Yogyakarta juga menerima penghargaan pengelolaan Sistem Informasi Monitoring Evaluasi dan Pelaporan dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia.



“Penghargaan ini adalah ujian agar Pemerintah Kota Yogyakarta tidak mudah puas diri, tetapi harus bisa bekerja lebih baik lagi untuk memastikan pemenuhan hak anak di Kota Yogyakarta,” katanya.

Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar