BPBD Sleman mengantisipasi potensi bencana kekeringan selama kemarau

id kekeringan sleman,antisipasi kekeringan,bencana kekeringan

BPBD Sleman mengantisipasi potensi bencana kekeringan selama kemarau

Tim Reaksi Cepat BPBD Kabupaten Sleman menyalurkan bantuan air bersih kepada warga yang daerahnya terdampak kekeringan di Kecamatan Prambanan. ANTARA/HO BPBD Sleman

Sleman (ANTARA) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman di Daerah Istimewa Yogyakarta mengantisipasi potensi terjadinya bencana kekeringan di wilayah perbukitan Kecamatan Prambanan selama musim kemarau.

"Saat ini memang di wilayah perbukitan Prambanan sudah terpasang pipa jaringan air bersih. Namun kami tetap melakukan antisipasi jika nanti ternyata jaringan air bersih tidak dapat optimal," kata Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Sleman Makwan di Sleman, Kamis.

Menurut dia, BPBD menyiapkan bantuan air bersih serta tanki-tanki untuk menyalurkan air bersih ke daerah-daerah yang terdampak kekeringan.

"Tahun lalu distribusi air bersih di daerah yang dilanda kekeringan mencapai lebih dari 2.500 tanki dengan kapasitas tiap tanki 5.000 liter. Tahun ini kemungkinan alokasi bantuan air bersih tetap pada kisaran angka 2.000 tanki lebih," katanya.

Ia mengatakan bantuan air bersih disiapkan guna mengantisipasi kemungkinan jaringan air bersih di perbukitan Prambanan mengalami kerusakan atau tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan warga.

"Jaringan air bersih ini baru selesai dipasang dari sumber air di Desa Jogotirto, Berbah. Kemarin sudah diuji coba dan sampai ke Desa Gayamharjo, Prambanan. Semoga jaringan berfungsi optimal," katanya.

Makwan mengatakan, tahun ini ada penyesuaian anggaran pemerintah untuk keperluan penanganan bencana non-alam akibat COVID-19 namun BPBD tidak mengurangi alokasi dana untuk penanggulangan bencana, termasuk bencana kekeringan.

"Penyesuaian anggaran hanya kami lakukan untuk yang sifatnya pembangunan atau pengadaan fisik, sedangkan anggaran darurat kebencanaan tetap," katanya.

Ia mengatakan, selama musim kemarau tahun ini ancaman kekeringan membayangi empat desa di Kecamatan Prambanan yakni Desa Gayamharjo, Sumberharjo, Wukirharjo, dan Sambirejo.

Saat terjadi kekeringan, ia melanjutkan, warga tidak hanya membutuhkan air bersih untuk keperluan sehari-hari tetapi juga perlu air untuk hewan ternak mereka.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan bahwa wilayah di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mesti siaga menghadapi potensi bencana kekeringan meteorologis.

"Status siaga karena telah mengalami 31 sampai 60 hari tanpa hujan (HTH) dan prospek peluang curah hujan rendah kurang dari 20 milimeter per dasarian," kata Kepala Kelompok Data dan Informasi Stasiun Klimatologi BMKG Yogyakarta Etik Setyaningrum.

Ia menjelaskan, kekeringan meteorologis akibat berkurangnya curah hujan dari keadaan normal dalam jangka waktu yang panjang bisa berlangsung bulanan.

Etik menyebutkan bagian wilayah DIY yang berstatus siaga kekeringan antara lain Kecamatan Bambanglipuro, Banguntapan, Bantul, Dlingo, Imogiri, Jetis, Kasihan, Pajangan, Piyungan, Pleret, Pundong, Sanden, Sewon, dan Srandakan di Kabupaten Bantul; Tegalrejo dan Umbulharjo di Kota Yogyakarta; serta Rongkop di Gunungkidul.

Galur, Kokap, Lendah, Panjatan, dan Pengasih di Kulon Progo serta Berbah, Depok, Gamping, Kalasan, dan Seyegan di Sleman juga harus siaga menghadapi ancaman kekeringan.

Selain itu ada daerah dengan peluang curah hujan rendah yang mesti mewaspadai kemungkinan terjadi kekurangan air seperti Kecamatan Pandak di Kabupaten Bantul; Girisubo, Panggang, Purwosari, Tanjungsari, dan Tepus di Gunung Kidul; Girimulyo Kalibawang dan Sentolo di Kulon Progo; serta Cangkringan, Godean, Minggir, Mlati, Moyudan, dan Ngaglik di Sleman.

BMKG Yogyakarta mengimbau masyarakat serta pemerintah daerah yang wilayahnya masuk kategori waspada dan siaga kekeringan meteorologis mengantisipasi dampak kekeringan.

"Dampaknya mulai dari berkurangnya pasokan air pada lahan pertanian, meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan serta berkurangnya sumber air untuk kebutuhan rumah tangga," kata Etik.

Menurut dia, seluruh wilayah DIY sudah memasuki musim kemarau dan puncak musim kemarau diprakirakan terjadi pada Agustus 2020.
 
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar