Ikatan Da'i Indonesia sebut Idul Adha pupuk solidaritas kebangsaan

id Ikadi,idul adha,solidaritas kebangsaan

Ikatan Da'i Indonesia sebut Idul Adha pupuk solidaritas kebangsaan

Ketua Ikatan Da'i Indonesia bidang Organisasi Dr H Baharuddin Husin (HO)

Jakarta (ANTARA) - Ketua Ikatan Da'i Indonesia (Ikadi) bidang Organisasi Dr H Baharuddin Husin mengatakan Idul Adha memupuk solidaritas kebangsaan dan persatuan melalui hewan kurban yang dibagikan kepada masyarakat.

“Diharapkan dengan melalui kurban ini bisa berbagi kepada tetangganya pada seluruh orang-orang yang khususnya sangat membutuhkan kepedulian itu. Di sinilah kepedulian dan juga membangun solidaritas yang diharapkan rasa persatuan persaudaraan antar sesama umat itu akan dapat meningkat, termasuk juga persaudaraan kebangsaan,” katanya dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Jumat.



Ia mengatakan, di dalam kehidupan ini tanpa adanya kerukunan, persaudaraan maupun solidaritas baik itu keagamaan dan solidaritas kebangsaan maka seluruhnya akan sengsara dan menjadi saling mengeksploitasi.

Namun demikian menurutnya, persoalan solidaritas keagamaan sering menjadi sangat sempit dan melupakan persaudaraan kebangsaan. Hal ini bisa saja memicu konflik seperti yang terjadi di luar negeri yang tentunya hal itu tidak diharapkan masuk ke Indonesia.

“Untungnya dengan keberadaan organisasi massa (ormas) yang didukung para pemuka agama di Indonesia dapat meredam kasus-kasus yang terjadi di komunitasnya masing-masing sehingga mencegah terjadinya konflik yang lebih luas,” ujarnya.

Apalagi kemudian menurutnya dengan adanya pengertian “hubbul wathon minal iman”, cinta tanah air itu bagian dari iman. Masyarakat tidak bisa berbuat tanpa ada negara, tanpa tanah air, karena tanah air ini merupakan bagian dari anugerah.

Lagi pula menurutnya kemerdekaan ini adalah atas perjuangan para ulama bersama para tokoh yang nasionalis dan agamis, sehingga muncul apa yang dikatakan lima dasar negara Pancasila.

“Pancasila ini juga hasil dari rembukan yang sangat luar biasa yang dinaungi oleh Ketuhanan Yang Maha Esa. Yang mana empat sila berikutnya itu di bawah naungan itu semua. Artinya tolok ukur maupun motor penggeraknya adalah Ketuhanan itu sendiri yang luar biasa. Nah, dalam agama juga ada kaitan dengan tanah air yang harus dibangun bersama-sama dengan baik,” ujarnya.

Sementara itu, Baharuddin mengapresiasi BNPT yang menginisiasi gugus tugas pemuka agama yang melibatkan 20 ormas lintas keagamaan yang tergabung dalam Lembaga Persahabatan Ormas Keagamaan (LPOK) dan juga 14 ormas Islam yang tergabung dalam Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI).



Menurut dia, gagasan tersebut sangat baik karena masyarakat di Indonesia ini sangat multikultur dan masing-masing memiliki komunitas. Seperti Nahdlatul Ulama (NU) dengan komunitas masyarakatnya, Muhammadiyah dengan komunitas masyarakatnya dan lain sebagainya.

Oleh karena itu ia menuturkan bahwa hal ini harus dipupuk dan harus dikembangkan agar jangan sampai kita nanti mengambil inisiatif sendiri terlalu cepat tapi hasilnya malah menimbulkan konflik seperti yang terjadi di luar.

Menurutnya, persoalan-persoalan masyarakat ini sebenarnya gampang diselesaikan ketika ada kebersamaan. Karena menurutnya masyarakat yang orientasi berpikirnya kurang pas itu akan mudah diluruskan dan diperbaiki ketika dilakukan pembinaan oleh orang yang disegani oleh yang bersangkutan.

“Sehingga tidak ada gap semacam itu, sehingga mudah. Misalnya si A ini dari Muhammadiyah, ya tentunya orang Muhammadiyah  langsung yang disegani yang memberi nasihat ke dia. Demikian pula si B dari NU, ya harus orang NU yang disegani yang langsung memberi nasehat ke dia.” terangnya.
 

Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar