DIY belum menerapkan pembelajaran tatap muka di sekolah

id DIY,Tatap muka,Pembelajaran

DIY belum menerapkan pembelajaran tatap muka di sekolah

Ilustrasi - Petugas sekolah mengukur suhu tubuh orangtua/wali murid saat pengambilan surat keterangan lulus pelajar kelas IX di SMP Taman Dewasa Jetis, Yogyakarta, Senin (8/6/2020). ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko/wsj.

tetap mengutamakan kehati-hatian
Yogyakarta (ANTARA) - Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Daerah Istimewa Yogyakarta belum berencana menerapkan pembelajaran secara tatap muka di seluruh jenjang pendidikan, khususnya SMA/SMK pada semester gasal tahun pelajaran 2020/2021 di masa pandemi COVID-19.

"Untuk sementara tampaknya DIY belum memungkinkan melakukan (pembelajaran) tatap muka," kata Kepala Disdikpora DIY Didik Wardaya saat dihubungi di Yogyakarta, Senin.

Menurut Didik, pembukaan kembali kegiatan belajar mengajar (KBM) di sekolah belum memungkinkan berlangsung secara tatap muka mengingat saat ini DIY masih berstatus tanggap darurat bencana COVID-19.

Selain itu, perkembangan kasus terkonfirmasi positif COVID-19 di DIY juga belum menunjukkan tren penurunan secara signifikan.

Pembukaan kembali kegiatan pembelajaran tatap muka, kata Didik, perlu diputuskan dengan kehati-hatian disertai kajian yang matang termasuk mempertimbangkan masukan dari para orang tua siswa.

"Jangan sampai muncul klaster penularan baru dari dibukanya sekolah. Itu yang harus kita jaga dengan tetap mengutamakan kehati-hatian," kata dia.

Kasus penularan COVID-19 di Sekolah Calon Perwira Angkatan Darat (Secapa AD) di Bandung, Jawa Barat, menurut dia, dapat menjadi bahan refleksi bersama bahwa di lingkungan pendidikan yang menerapkan disiplin ketat pun masih bisa terjadi transmisi COVID-19.

Didik menyebutkan bahwa prosedur standar operasi (SOP) untuk pelaksanaan praktikum tatap muka telah disiapkan khususnya bagi siswa SMK di DIY.

Meski demikian, praktikum bagi siswa SMK harus melalui simulasi di beberapa sekolah terlebih dahulu yang pelaksanaannya menunggu hasil evaluasi perkuliahan tatap muka di perguruan tinggi pada September 2020.

"Nanti September seiring mahasiswa masuk kita mungkin juga khususnya untuk yang praktikum akan simulasi," kata dia.

Sebelumnya, Sekretaris Daerah (Sekda) DIY Kadarmanta Baskara Aji mengatakan bahwa Gubernur DIY selalu mengingatkan agar pembukaan sekolah maupun perguruan tinggi tidak dilakukan secara gegabah.

"Kita ini kan tidak boleh gegabah ada pembelajaran tatap muka. Terutama untuk kelas-kelas kecil sehingga kita nanti uji cobanya justru di mahasiswa," kata dia.

Menurut dia, pembukaan pendidikan dengan tatap muka tidak perlu tergesa-gesa agar tidak justru memunculkan klaster penularan COVID-19 di lingkungan pendidikan.

"Kalau kita punya pengalaman untuk mahasiswa kemudian kita geser ke SMA. Pelan-pelan kita tidak tergesa-gesa. Maunya Ngarso Dalem (Sultan HB X) supaya tidak ada klaster pendidikan," kata Aji.

Pakar pendidikan sekaligus penasihat Dewan Pendidikan DIY Wuryadi berpendapat kreativitas guru sangat menentukan kualitas pendidikan di masa pandemi COVID-19.

"Di masa seperti ini kualitas pendidikan akan turun, itu harus kita sadari. Tetapi mungkin saja ada kreativitas guru yang muncul," kata Wuryadi.

Ia mengatakan jika proses belajar mengajar hanya bersifat memberikan dan mengerjakan tugas semata maka aspek pendidikannya belum tercapai. Sebab, selain melibatkan dialog dua arah, pendidikan harus memadukan antara pikiran dan perasaan siswa.

"Dalam mendidik guru harus memberi arahan bagaimana murid sampai pada situasi dan kondisi di mana mereka tidak hanya menggunakan otak tapi juga hatinya," ujar  Wuryadi.

Pemerintah melalui surat keputusan bersama (SKB) empat menteri yakni Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Agama, Menteri Kesehatan dan Menteri Dalam Negeri telah menyepakati untuk memperbolehkan pelaksanaan kegiatan belajar mengajar tatap muka secara langsung di sekolah.

Kegiatan belajar mengajar tatap muka secara langsung tersebut diperbolehkan untuk daerah yang termasuk dalam kategori zona hijau dan zona kuning.


 
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar