PKL di Malioboro diliburkan usai ada yang meninggal karena COVID-19

id PKL Malioboro,libur,COVID-19,meninggal dunia

PKL di Malioboro diliburkan usai ada yang meninggal karena COVID-19

Dokumentasi - Suasana di sepanjang pedestrian Jalan Malioboro Yogyakarta yang sudah dilengkapi dengan tanda anak panah untuk mengatur arah jalan wisatawan sebagai bagian dari penerapan protokol kesehatan di tempat wisata tersebut saat pandemi COVID-19, 19 Juni 2020. (Eka AR)

Yogyakarta (ANTARA) - Dalam upaya tracing kontak terhadap seorang pedagang kaki lima di Malioboro Yogyakarta yang terkonfirmasi positif COVID-19 dan meninggal dunia pada Jumat (4/9), sekitar 200 PKL di Malioboro Zona 3 diliburkan sementara waktu.

“Pedagang kaki lima yang diliburkan delapan orang. Semuanya diliburkan sejak Sabtu (5/9) pagi karena berjualan dekat dengan pedagang yang terkonfirmasi positif COVID-19,” kata Ketua Harian Gugus Tugas Penanganan COVID-19 Yogyakarta Heroe Poerwadi di Yogyakarta, Minggu.
 

Selain meliburkan pedagang, upaya tracing juga dilakukan terhadap keluarga yang menjadi kontak erat pedagang dan warga di sekitar rumah pedagang yang berada di Kecamatan Danurejan Yogyakarta. Hingga saat ini, total warga yang masuk dalam tracing berjumlah 19 orang terdiri dari tujuh orang anggota keluarga dan 12 pedagang yang bersebelahan.

Heroe memastikan seluruh kontak erat dari pedagang kaki lima yang meninggal dunia tersebut sudah diminta melakukan isolasi mandiri.

“Sekarang masih menunggu hasil tracing. Kami berharap, kasus ini tidak meluas, makanya proses tracing diupayakan dilakukan secara cepat sembari menunggu hasil pemeriksaannya seperti apa,” katanya.

Oleh karena itu, Heroe berharap masyarakat tidak berspekulasi terhadap kasus tersebut sampai ada hasil pemeriksaan kesehatan yang valid dari hasil tracing terhadap seluruh kontak erat pasien.

“Untuk kondisi di Malioboro, saya kira tetap aman karena pedagang yang memiliki kontak erat sudah diliburkan. PKL lain pun tetap diizinkan berjualan,” katanya.
 

Sedangkan mengenai penutupan sementara terhadap delapan lapak PKL di Malioboro Zona 3, Heroe mengatakan belum bisa memastikan batas waktunya. “Kami tunggu proses tracing selesai semuanya dan bagaimana nanti hasilnya,” katanya.

Sementara itu, lanjut Heroe, sampai saat ini belum meminta pembeli untuk melakukan pemeriksaan kesehatan karena masih menunggu hasil tracing.

Berdasarkan data dari hasil pemindaian QR Code yang diwajibkan bagi seluruh wisatawan di Malioboro, diketahui pada rentang waktu 18-27 Agustus, sebanyak 30.116 wisatawan dan 3.698 orang diantaranya masuk ke Zona 3.

“Dari pemindaian QR Code tersebut, kami sudah memiliki data serta nomor telepon wisatawan. Jika memang nantinya harus melakukan pemeriksaan kesehatan, maka mereka akan kami hubungi,” katanya.

Sebelumnya, Heroe yang juga menjabat sebagai Wakil Wali Kota Yogyakarta telah meminta paguyuban PKL di Malioboro agar memberikan pemahaman bahwa PKL yang berusia lanjut dan memiliki penyakit atau sedang sakit untuk tidak berjualan terlebih dulu.

“Sebelum kasus ini muncul, kami pun sudah meminta pedagang dan seluruh komunitas di Malioboro untuk lebih serius menerapkan protokol kesehatan. Setelah ada kasus ini, seluruh paguyuban pedagang lebih intensif lagi menerapkan protokol kesehatan,” katanya.

Sedangkan bagi wisatawan atau pengunjung, lanjut dia, juga diminta tetap disiplin menerapkan protokol kesehatan yaitu selalu memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan menggunakan sabun.
 

Pewarta :
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar