Dapur Balita di Yogyakarta dorong program posyandu tetap aktif di masa pandemi

id Dapur Balita,Posyandu,yogyakarta

Dapur Balita di Yogyakarta dorong program posyandu tetap aktif di masa pandemi

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Perempuan dan Perlindungan Anak (DPMPPA) Kota Yogyakarta Edy Muhammad (Eka AR)

Yogyakarta (ANTARA) - Pejabat pada Dinas Pemberdayaan Masyarakat Perempuan dan Perlindungan Anak Kota Yogyakarta menyatakan program Dapur Balita yang menjadi bagian dari gerakan “Ngluwihi Mbagehi” menjadi salah satu pendorong agar berbagai program dan kegiatan dalam posyandu balita bisa berjalan secara aktif dengan tetap menerapkan protokol kesehatan secara ketat.

“Saat ini, kegiatan Dapur Balita sudah berjalan di 65 RW di 30 kelurahan yang ada di seluruh kecamatan. Kegiatan ini menjadi pendorong pemenuhan kebutuhan gizi balita selama pandemi, seperti yang selalu dilakukan di posyandu,” kata Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Perempuan dan Perlindungan Anak (DPMPPA) Kota Yogyakarta Edy Muhammad di Yogyakarta, Minggu.

Melalui kegiatan tersebut, katanya, masyarakat melakukan swadaya untuk mengumpulkan beragam bahan makanan dan kemudian memasaknya menjadi berbagai menu sesuai kebutuhan gizi balita.

"Makanan tersebut kemudian dibagikan ke balita yang ada di wilayah. Biasanya dalam dua pekan sekali, sehingga kegiatan ini sekaligus menjadi embrio untuk menggiatkan kembali kegiatan posyandu,” katanya yang menyebut posyandu biasanya digelar satu bulan sekali.

Warga yang mengelola kegiatan dapur balita, lanjut dia, biasanya akan menginformasikan ke masyarakat mengenai pilihan menu yang akan dimasak sehingga warga bisa memberikan donasi bahan makanan sesuai dengan kebutuhan menu.

“Harapannya, menu yang disajikan semakin variatif. Semuanya merupakan kegiatan sosial dari masyarakat,” katanya.

Sementara itu, selama pandemi COVID-19, kegiatan posyandu di masyarakat yang berbasis RW dihentikan sementara. Di Kota Yogyakarta terdapat 623 posyandu berbasis RW.

“Posyandu di masyarakat merupakan kegiatan yang sangat penting karena dari posyandu itu dapat dilakukan pemantauan tumbuh kembang balita secara rutin,” katanya.

Berbagai kegiatan yang biasanya dilakukan, di antaranya pengukuran berat badan, tinggi badan, lingkar kepala dan pemberian vitamin, makanan tambahan, dan edukasi mengenai tumbuh kembang balita.

“Karena pandemi, maka kami mencari upaya lain supaya pemantauan tumbuh kembang bisa dilakukan. Salah satunya membuat video mengenai program posyandu dengan tetap mengedepankan protokol kesehatan,” katanya.

Selain itu, lanjut Edy, DPMPPA Kota Yogyakarta juga akan menyiapkan dukungan dari sisi psikologi yang biasanya dilakukan bersamaan dengan Dapur Balita, yaitu membuka sesi konsultasi psikologi untuk masyarakat.

“Misalnya jika ada kasus kekerasan, maka akan kami arahkan ke UPT yang menangani kekerasan atau sedang ada masalah keluarga, maka akan diarahkan ke Puspaga,” katanya.

Pewarta :
Editor: Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar