Penghasilan seniman TMII bergantung donasi

id Seniman Jakarta, PSBB, Jakarta, konser donasi, virual

Penghasilan seniman TMII bergantung donasi

Sejumlah wahana becak air terparkir di tepi danau saat diberlakukannya pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Sabtu (19/9/2020). Taman Mini Indonesia Indah (TMII) merupakan salah satu dari puluhan tempat wisata di Jakarta yang ditutup kembali mulai Senin (14/9) setelah diberlakukannya lagi PSBB Jakarta hingga waktu yang belum ditentukan. (ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/hp)

Jakarta (ANTARA) - Komunitas seniman Taman Mini Indonesia Indah (TMII)  menyatakan penghasilan mereka untuk menyambung hidup praktis bergantung kepada donasi sejak Pemprov DKI Jakarta menutup tempat hiburan selama masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

"Teman-teman melaksanakan konser virtual dengan berbagai tajuk dan cara untuk donasi, tetapi kan seniman semestinya tidak harus bekerja dengan cara donasi konser," kata Koordinator Seniman Tari dan Musik Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Armen, di Jakarta, Selasa.



Menurut Armen PSBB yang diterapkan secara terus menerus telah menutup ruang kreativitas seniman dalam berkarya untuk memperoleh penghasilan.

Penutupan sementara kawasan wisata TMII sebagai upaya mencegah penularan COVID-19 nyatanya menjadi 'kuburan hidup' bagi Armen dan ratusan rekan seprofesinya.

"TMII misalnya, PSBB berlanjutan membuat aktivitas kami mati, TMII sekarang seperti kuburan hidup bagi kami, aktivitas mati karena dikontrol petugas," ujarnya.



Satu-satunya peluang mencari pendapatan, kata Armen, hanya melalui konser virtual yang memanfaatkan fasilitas media sosial dengan mencantumkan permintaan donasi.

Armen mengatakan konser tidak seharusnya digelar dengan donasi, sebab seniman harus berkarya.

"Bagi saya agak malang juga seniman lakukan itu (donasi melalui konser virtual). Takutnya kalau COVID-19 selesai, seniman akan ke bawa terus dengan kebiasaan itu. Sedangkan seniman itu berkaitan dengan mempertahankan marwah budaya," katanya.



Donasi yang terkumpul melalui konser virtual pun terkadang tidak sesuai harapan untuk bisa memenuhi kebutuhan dasar anggota.

"Tapi saya tidak bisa salahkan teman-teman, sebab pergerakan kita memang sudah tidak ada lagi. Donasi itu memakan waktu dan tenaga, malah kadang ada, kadang tidak pemasukan," ujarnya.
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar