Pasien di Selter COVID-19 Yogyakarta tak ada yang dirujuk ke RS

id Selter COVID-19,yogyakarta,rumah sakit

Pasien di Selter COVID-19 Yogyakarta tak ada yang dirujuk ke RS

Dokumentasi - Selter Penanganan COVID-19 Yogyakarta yang memanfaatkan bangunan rumah susun sewa yang belum dihuni di Kecamatan Tegalrejo, 22 September 2020. (Eka AR)

Yogyakarta (ANTARA) - Pengelola Selter Penanganan COVID-19 Yogyakarta menyatakan sejak dioperasikan pada pekan ketiga September 2020, tidak ada satu pun pasien yang diisolasi di lokasi itu yang perlu dirujuk untuk mendapat perawatan medis lebih lanjut di rumah sakit.

“Sampai saat ini, tidak ada satupun pasien yang harus dirujuk untuk penanganan lebih lanjut. Semuanya bisa menyelesaikan masa isolasi di selter,” kata Penanggung Jawab Selter COVID-19 Yogyakarta Agus Sudrajat di Yogyakarta, Rabu.

Selter Penanganan COVID-19 Yogyakarta yang memanfaatkan bangunan rumah susun sewa di Kecamatan Tegalrejo tersebut selama ini ditujukan untuk merawat pasien terkonfirmasi positif COVID-19 namun tidak menunjukkan gejala apapun.
 

Pasien yang menjalani perawatan di selter adalah warga yang berdomisili di Kota Yogyakarta atau warga Kota Yogyakarta yang dibuktikan dengan kepemilikan kartu identitas kependudukan.

“Selama ini, pasien yang dirawat di selter tidak hanya orang dewasa saja tetapi ada beberapa anak balita dan juga ibu hamil yang pernah menjadi penghuni selter,” katanya.

Pemerintah Kota Yogyakarta memberikan jaminan pemenuhan kebutuhan sehari-hari selama pasien tersebut menjadi penghuni selter, termasuk makan sehari-hari, dan kebutuhan logistik lainnya.
 

“Misalnya untuk kebutuhan makanan juga disesuaikan dengan usia dan kebutuhan gizi penghuni. Kami menyiapkan menu makanan khusus untuk balita, ibu hamil, dan lansia supaya gizi mereka tetap terpenuhi dan mendukung peningkatan daya tahan tubuh,” katanya.

Saat ini, terdapat 13 pasien tanpa gejala yang menghuni Selter Penanganan COVID-19. “Baru-baru ini ada tambahan enam pasien yang masuk. Seluruhnya berasal dari satu keluarga,” katanya.

Penghuni Selter COVID-19 tersebut biasanya adalah pasien yang tidak mampu melakukan isolasi secara mandiri di rumah karena kondisi rumahnya tidak memenuhi syarat. “Misalnya tidak memiliki ruangan terpisah atau kamar mandi yang terpisah, makanya dirawat di selter,” katanya.
 

Usai libur panjang akhir Oktober, Agus mengkhawatirkan terjadi kenaikan jumlah pasien atau penghuni selter apabila masyarakat mengabaikan protokol kesehatan.

“Penyelenggara usaha pariwisata, wisatawan, dan masyarakat umum tetap harus menerapkan protokol kesehatan secara ketat. Hanya itu upaya yang bisa dilakukan supaya tidak ada penularan kasus,” katanya.

Sebelumnya, Ketua Harian Satgas COVID-19 Yogyakarta Heroe Poerwadi mengatakan jumlah pasien yang menjalani isolasi mandiri tidak pernah melebihi 20 orang dalam satu waktu.
 

“Kapasitas masih sangat mencukupi. Tetapi, harapannya jumlah pasien yang dirawat di selter maupun pasien terkonfirmasi positif COVID-19 bisa ditekan,” katanya.

Libur panjang akhir Oktober 2020, lanjut dia, menjadi tantangan dalam penanganan COVID-19. “Libur panjang ini memberikan kesempatan untuk pemulihan ekonomi. Tetapi jika tidak disertai dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat, dikhawatirkan ada kenaikan kasus,” katanya.
 

Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar