Kulon Progo diminta serius tangani ancaman banjir kawasan selatan

id Jalud jebol,ancaman banjir,Kulon Progo,Fraksi Gerindra,Sungai Serang,BBWSSO

Kulon Progo diminta serius tangani ancaman banjir kawasan selatan

Warga Kalurahan/Desa Triharjo, Kapanewon/Kecamatan Wates, Kabupaten Kulon Progo memasang pancangan dan karung pasir karena talud Sangai Serang hampir jebol. Sampai saat ini belum ada perhatian dari pemkab dan intansi terkait. Saat ini, kondisi curah hujan di wilayah ini sangat tinggi, sehingga warga yang berada di sekitar talud Sungai Serang merasa was-was. ANTARA/Sutarmi

Kulon Progo (ANTARA) - Ketua Fraksi Gerindra DPRD Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, Sendy Yulistya Prihandinyi mempertanyakan keseriusan pemerintah setempat menangani banjir kawasan selatan, meliputi Kecamatan/Kapanewon Wates, Panjatan, Galur, dan kawasan Bandara Internasional Yogyakarta karena ancaman meluapnya Sungai Serang dan Sungai Bogowonto.

Sendy di Kulon Progo, Senin, mengatakan saat hujan deras yang mengguyur Kulon Progo beberapa waktu lalu di Kecamatan/Kapanewon Wates, dan Panjatan mengalami banjir meski tidak parah, yang disebabkan oleh tanggul dan talud Sungai Serang yang baru dibangun hampir jebol, begitu juga di kawasan Bandara YIA.

Sepanjang aliran Sungai Serang dari Wates, Jembatan Bendungan, Ngestiharjo hingga Karangwuni, banyak tanggul hampir jebol, sehingga menyebabkan ancaman banjir, khususnya di Kalurahan/Desa Triharjo. Pada saat hujan minggu lalu, talud Sungai Serang hampir jebol dan sampai saat ini mengavcam kawasan permukiman warga.

"Kami minta Pemkab Kulon Progo, dalam hal ini Dinas Pekeraan Umum, Perumahan dan Kawasan Permukinan (DPUPKP) dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) serius menangani banjir kawasan selatan. Tanggul Sungai Serang yang ada di Kalurahan Triharjo harus mendapatkan perhatian semua pihak," kata Sendy.

Ia mengatakan Kecamatan/Kapanewon Wates ini kotanya Kabupaten Kulon Progo, sehingga perlu adanya perhatian serius untuk masalah ancaman banjir. Warga di Triharjo secara mandiri memasang karung-kalurung pasir karena talus Sungai Serang sudah hampir jebol, dan belum ada tindak lanjut dari Pemkab Kulon Progo. Sarung pasir dari BPBD Kulon Progo, tetapi pasir dan tenaga swadaya masyarakat Triharjo. Ia menyadari Sungai Serang menjadi tanggung jawab Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSSO). Namun demikian, pemkab harus mengkomunikasikan hal ini.

"Kami mohon talud Sungai Serang di Kapanewon/Kecamatan Wates menjadi perhatian pemkab dan BBWSO. Jangan sampai bencana banjir melanda Wates, khususnya di Triharjo, Bendungan, Ngestiharjo dan Karangwuni. Kondisi tanggul dalam kondisi kritis," katanya.

Sendy mengatakan kawasan selatan memiliki potensi tinggi terjadinya banjir bila terjadi hujan dengan intensitas tinggi. Di wilayah selatan yang memiliki potensi terjadinya bencana banjir, Kecamatan Temon, Wates, Galur dan Panjatan. Sedikitnya, ada 22 desa/kalurahan yang rawan bencana banjir. Adapun berdasarkan laporan BPBD, yakni di Kecamatan Temon, desa-desa yang rawan banjir adalah Desa Plumbon, Desa Kalidengen, Desa Palihan, Desa Kaligintung, Desa Temon Wetan dan Desa Temon Kulon.

Di Kecamatan Wates, Desa Karangwuni, Sogan, Kulwaru, Ngestiharjo dan Triharjo. Selanjutnya, Kecamatan Panjatan, Desa Gotakan, Panjatan, Cerme, Kanoman, Krembangan dan Tayuban. Di Kecamatan Galur desa-desa yang rawan banjir adalah Desa Brosot, Tirtorahayu, Kranggan dan Pandowan serta Desa Wahyuharjo di Kecamatan Lendah. Hal ini karena (desa-desa tersebut) berada dataran rendah dan banyak sungai besar yang berpotensi meluap karena terjadi pendangkalan.

Sendy mengakui pada 2018, Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSSO) melakukan normalisasi normalisasi Sungai Serang dan Sungai Bogowonto dan anak-anak sungai mampu menekan bencana banjir di Kecamatan Wates, Panjatan, Galur, Lendah dan Temon. Anak sungai yang sangat berpengaruh di Kecamatan Panjatan, Temon dan Wates, adalah Sungai Heisero dan Sungai Sen, memiliki potensi tinggi menyebabkan bencana banjir.

Ancaman yang membayakan adalah talud jebol. Saat ini, talud Sungai Serang masih berupa tanah. Di sisi lain, talud tersebut tinggal satu mater dari permukiman padat penduduk. Hal ini perlu adanya komunikasi lebih lebih lanjut menangani ancaman tersebut.

"Meski sudah dilakukan normalisasi, tetap ada koordinasi antara BPBD, DPUPKP, dan BBWSSO. Saat ini diprediksi potensi curah hujan cukup tinggi, artinya di wilayah setelan menjadi wilayah dengan ancaman bencana banjir cukup tinggi. Kami tidak berharap kasus tanggul jebol tanggul Sungai Serang, tepatanya di Bendungan, Wates," katanya.

Ia juga meminta Pemkab Kulon Progo melalui OPD terkait juga melakukan normalisasi Sungai Heizero dan Sungai Sen mulai Simpang Empat Nagung, Kecamatan Wates hingga Jembatan Ngremang, Desa Bugel Kecamatan Panjatan secara berkala.

"Meski sudah dilakukan normalisasi, tetap perlu diwaspadai segala potensi. Apalagi setiap Agustus hingga Desember merupakan masa tanam padi. Jangan sampai ada banjir yang merendam tanaman padi," katanya.

Lebih lanjut, Sendy, meminta Dinas Pertanian dan Pangan mendampingi dan mengajak petani untuk mengansuransikan tanaman padi. Hal ini untuk mengantisipasi terjadinya puso atau gagal panen karena tanaman padi terendam banjir atau serangan hama.

"Semua OPD, tidak terkecuali harus ikut serta dalam menangani bencana banjir. Bencana banjir ini efeknya tidak hanya pada tatanan sosial, tapi juga berdampak pada ekonomi masyarakat, seperti sektor pertanian,"' katanya.

Politisi Gerindra Daerah Pemilihan I (Temon, Wates, dan Panjatan) ini juga meminta ada perhatian potensi bencana banjir di Kecamatan Temon. Meski BBWSSO memiliki program adanya normalisasi kawasan bandara, yakni normalisasi Sungai Bogowonto dan Sungai Serang, kawasan Temon tetap harus diperhatikan. Daerah tersebut berada di dataran rendah, dan air sulit dibuang.

"Normalisasi kawasan Bandara YIA dari ancaman potensi banjir harus menyeluruh, termasuk di seluruh desa/kalurahan di Temon juga harus dipikirkan," katanya.

Sebelumnya, Kepala Pelaksana BPBD Kulon Progo Ariadi mengakui kawasan selatan memang memiliki potensi ancaman bencana banjir karena daerahnya merupakan kawasan cekungan.

"Kawasan selatan masuk dalam peta potensi rawan bencana banjir. Kami sudah meminta masyarakat untuk melapor bila terjadi luapan air supaya dapat ditangani langsung," katanya.
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar