Jagadmaya.id menawarkan cara baru menikmati seni visual secara digital

id jagadmaya,seni visual

Jagadmaya.id menawarkan cara baru menikmati seni visual secara digital

Peluncuran Jagadmaya.id (HO-Istimewa)

Yogyakarta (ANTARA) - Jagadmaya.id menawarkan cara baru untuk menikmati seni visual secara digital yang berlangsung mulai 21 November hingga 30 Desember 2020 di www.jagadmaya.id.

"Seni visual ini menjadi sebuah perjalanan melintasi ruang dan waktu secara virtual. Ada beberapa ruang yang berisi karya visual artist dalam format 360. Karya ini diapresiasi melalui kacamata virtual reality (VR)," kata Project Director Jagadmaya.id Ishari Sahida dalam peluncuran Jagadmaya.id di Yogyakarta, Sabtu.

Karya-karya yang ditampilkan dalam Jagadmaya.id merupakan pengembangan dari tema utama Multiverse Voyager. Jadi, karya yang bisa dinikmati pun bertema ruang dan realita yang imajinatif.

Menurut dia, bukan tanpa alasan tema ini diangkat. Tema alam semesta selalu relevan diusung dalam peradaban manusia. Alam semesta selalu digambarkan dengan sangat besar dan tidak terbatas.

"Alam semesta tidak tunggal, ada semesta-semesta lain di luar tempat tinggal kita sekarang," ujar Ari Wulu, sapaan akrab Ishari Sahida.

Ia menuturkan Jagadmaya.id menjadi "jembatan" yang menghubungkan dimensi tidak kasat mata atau hiperealitas. Karya-karya yang ditampilkan belum tentu sama dengan dimensi yang menjadi tempat tinggal manusia saat ini.

"Teknologi 360 yang digunakan untuk menikmati karya seniman hanya instrumen kecil supaya 'realita palsu' bisa dirasakan secara nyata," katanya.

Para fisikawan mengungkapkan alam semesta yang menjadi tempat tinggal manusia kemungkinan adalah salah satu dari banyak tempat yang ada di alam semesta. Alam semesta yang tak terhingga jumlahnya membentuk multiverse.

"Manusia sebagai penjelajah tidak pernah berpuas diri dengan satu keadaan. Upaya menembus batas ruang dan waktu dilakukan untuk melakukan perjalanan ke alam semesta lain. Tujuannya, mencari hal-hal yang lebih baik ketimbang alam semesta tempat kita berada sekarang," katanya.

Menurut dia, ada tiga seniman yang berpartisipasi dalam Jagadmaya.id, yakni Fajar Yudistira, UVISUAL, dan JVMP. Fajar Yudistira memulai karirnya di industri kreatif sebagai Visual Jockey di Yogyakarta pada 2007.

Fajar banyak terlibat dalam proyek dan konser visual, augmented reality, sampai video mapping. Saat ini ia bekerja di salah satu studio pengembang game terbesar di Malaysia.

UVISUAL adalah studio seni digital yang dikembangkan dari komunitas multimedia yang telah berkiprah di bidang seni dan teknologi di Bandung sejak 24 Oktober 2014. Fokus utama UVISUAL antara lain, pemetaan video, instalasi seni, visual jockey, augmented reality, dan virtual reality.

"Mereka berpartisipasi dalam Jagadmaya.id karena ingin menghadirkan pengalaman berbeda kepada penonton sekalugus mengapresiasi perkembangan seni dan teknologi," katanya.

Jogjakarta Video Mapping Project [JVMP] adalah komunitas seniman visual yang terkenal menciptakan banyak karya kolektif dalam dan luar ruangan sejak 2013. JVMP mengumpulkan orang-orang yang tertarik dalam bidang teknologi, video, animasi, multimedia, dan visualisasi pencahayaan.

Beragam perhelatan seperti lomba, karya kolektif bersakala nasional dan internasional, kerja sama dengan otoritas lokal dan swasta, penelitian, dan sebagainya digelar rutin untuk perkembangan komunitas.

Salah satu kurator Jagadmaya.id S Wibowo J mengungkapkan seni visual menjadi salah satu cara menjelajahi alam semesta yang tidak terbatas. Melalui teknologi 360, manusia bisa mengarungi alam semesta lain yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.

"Para seniman yang berpartisipasi dalam Jagadmaya.id diajak untuk membuat karya yang menembus batas, ruang, dan waktu. Mereka yang menikmati karya para seniman bisa menjelejahi dimensi lain, alam semesta lainnya, yang tidak pernah dipikirkan sebelumnya," katanya.

Kurator lain Raphael Donny menuturkan beragam karya yang ditampilkan dalam Jagadmaya.id menampilkan komposisi imajinasi tentang alam semesta dari berbagai perspektif karya. Imajinasi, seperti kata Albert Einstein, lebih penting dari pengetahuan. Jika pengetahuan manusia terbatas, maka imajinasi mampu menembusnya.

"Pandemi COVID-19 menjadi situasi yang dihadapi seluruh manusia di muka bumi. Waktu dan tempat serba terbatas dan dibatasi. Semua hal dipaksa terhenti, kecuali imajinasi.  Padahal, alam semesta yang luas menjanjikan ketidakterbatasan," katanya.
 
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar